Jumat, 08 November 2013

Pertanian Terpadu

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Pertanian terpadu merupakan sistem pertanian yang selaras dengan kaidah alam, yaitu mengupayakan suatu keseimbangan di alam dengan membangun suatu pola relasi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan di antara setiap komponen ekosistem pertanian yang terlibat, dengan meningkatkan keanekaragaman hayati dan memanfaatkan bahan-bahan limbah organik. Pada dasarnya alam diciptakan dalam keadaan seimbang oleh sang pencipta, sehingga alam mempunyai cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan dan manusia sebagai bagian dari unsur alam memiliki tugas untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan baik dan proporsional.
            Pola pertanian terpadu merupakan kombinasi antara pola pertanian tradisional dengan ilmu pengetahuan modern di bidang pertanian yang berkembang terus. Pada pelaksanaan pertanian terpadu lebih banyak memanfaatkan potensi lahan yang ada dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar serta dengan pengelolaan manajemen modern yang dikelola secara profesional dan terpadu. Tujuan dari sistem pertanian terpadu antara lain yaitu, memasyarakatkan sistem pertanian terpadu sebagai pertanian yang lestari dimana lokasi tanah diperhatikan dan ditingkatkan untuk menjamin kelangsungan siklus yang berkesinambungan. Membentuk masyarakat tani yang mandiri dan peduli lingkungan dan sadar akan jati dirinya sebagai penjaga alam. Meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata dengan pola pikir maju dan pola hidup sederhana. Membentuk suatu ikatan kerjasama dalam bentuk pertanian inti rakyat serta membangun kerjasama yang sejajar dalam memenuhi kebutuhan sektor pertanian. Memenuhi kebutuhan pasar akan makanan yang sehat dan bebas polusi guna meningkatkan kualitas dalam persaingan.
            Dalam prakteknya, sistem pertanian terpadu tidaklah semudah dan sesederhana seperti yang banyak disangka orang. Diperlukan strategi-strategi jitu agar tujuan dari sistem pertanian terpadu dapat tercapai sesuai dengan apa yang telah diharapkan. Strategi yang harus dibangun adalah usaha tani terpadu yang berorientasi kepada pasar serta pelestarian nilai budaya tradisional dengan sistem kegiatan manajemen modern. Strategi-strategi yang perlu dibangun tersebut yaitu, yang pertama ialah pertanian tradisional dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya yang dimiliki serta dikelola dengan manajemen modern yang bertujuan mengurangi ketergantung terhadap pupuk anorganik.          
1.2 Tujuan Praktikum
            Tujuan dari praktikum Pertanian terpadu adalah memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang peran faktor lingkungan (biotik dan abiotik) dalam sistem pertanian, mahasiswa dapat menganalisis komponen-komponen dalam sistem pertanian dan menuangkannya dalam bentuk bahasan yang mengupas kondisi di setiap tipe sistem pertanian serta mencermati setiap tipe pemanfaatan lahan baik secara umum maupun khusus.
II. LANDASAN TEORI
2.1 Budidaya Tanaman Kacang Panjang
            Adapun budidaya dari kacang panjang adalah sebagai berikut :
Syarat Tumbuh
            Lahan yang cocok adalah sawah berpengairan teknis dengan  ketinggian tempat sekitar 600m dpl, suhu 25-35oC, pH tanah 5,5-6,5 dengan struktur tanah yang gembur dan kaya bahan organik. Musim yang tepat untuk budidaya kacang panjang pada musim kemarau. Iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun (Guramalem. 2011).
            Media tanam yang cocok untuk budidaya tanaman kacang panjang adalah Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik. Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar.
Teknik budidaya
A. Persiapan Lahan
·         Pembentukan bedengan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit keliling, biarkan tanah dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm.
·         Pengapuran
Pengapuran dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dosis tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur pertanian dalam bentuk kalsit, dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha tergantung dari pH awal dan jumlah Alumunium. Kapur dicampur secara merata dengan tanah pada kedalaman 30 cm.
·         Penambahan pupuk kandang
Pada saat pembentukan bedengan atau guludan tambahkan 10-20 ton/ha pupuk kandang, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur merata dengan tanah sambil dibalikkan

B. Persiapan Benih

            Benih kacang panjang yang baik dan bermutu adalah yang memiliki penampilan bernas/berisi, memiliki ukuran yang seragam dan normal, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20 kg. Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang telah disiapkan.

C. Penanaman

            Pembuatan jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm. Kedalaman lubang tanam jangan terlalu dalam karena bisa menghambat  pertumbuhan benih, cukup benih bisa tertutup oleh tanah saja sekitar 5 cm. Benih yang dimasukkan dalam lubang tanam cukup 2 biji saja. Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai.


D. Pemeliharaan
·         Penyulaman benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.
·         Pemupukan
Pupuk Dasar, Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha. Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45 kg/ha. Kacang hibrida: 85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha. Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam.
Pupuk Susulan, Pupuk susulan tanaman kacang panjang tipe merambat, diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk susulan untuk kacang panjang tipe tegak diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 85 kg/ha.

a.       Pengairan
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.

b.      Hama dan Penyakit kacang panjang
            Lalat kacang (Ophiomya phaseoli Tryon) Gejala: terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif asefat dengan konsentrasi 1gr/liter.
            Kutu daun (Aphis cracivora Koch) Gejala: pertumbuhan terlambat karena hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan insektisida berbahan aktif abamektin dengan konsentrasi 0,5ml/liter.

            Ulat grayak (Spodoptera litura F.) Gejala: daun berlubang dengan ukuran tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong. Pengendalian: dengan peraikan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman serempak, perangkap hama kimiawi dan insektisida klorpirifos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
            Penggerek biji (Callosobruchus maculatus L) Gejala: biji dirusak  berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.
            Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala: larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong. Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman. Disemprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos dengan konsentrasi 1-2ml/liter.
            Antraknose Penyebab: jamur Colletotricum lindemuthianum. Gejala: serangan dapat diamati pada bibit yang baru berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam dengan fungisida mankozeb dan karbendazim.
            Penyakit mozaik Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne Virus/CAMV. Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian: dengan menggunakan benih yang sehat dan bebas virus, disemprot dengan insektisida yang efektif untuk kutu daun dengan bahan aktif abamektin dan tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
            Penyakit sapu Penyebab: virus Cowpea Witches-broom Virus/Cowpea Stunt Virus. Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas (buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk "sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit mosaik.
            Layu bakteri Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan drainase dan mencabut tanaman yang mati, dan penyemprotan fungisida bahan aktif mankozeb atau klorotalonil dengan konsentrasi 2-3gr/liter.

E. Panen
            Ciri-ciri kacang panjang yang siap dipanen adalah ukuran dan panjang polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan. Cara panen pada tanaman kacang panjang cukup memotong pangkal buahnya saja. Produksi polong muda per satuan luas dapat mencapai minimal 2,0 ton/ha, tergantung varietasnya. Pada varietas KP-I dapat mencapai 6,2 ton/ha dan KP-2 sebesar 2,1 ton/ha.
2.2 Analisis SWOT
            Menurut Kurtz (2008), SWOT analisis adalah suatu alat perencanaan strategik yang penting untuk membantu perencana untuk membandingkan kekuatan dan kelemahan internal organisasi dengan kesempatan dan ancaman dari external.  Menurut Pearce and Robinson (2003), analisis SWOT perlu dilakukan karena analisa SWOT untuk mencocokkan “fit” antara sumber daya internal dan situasi eksternal perusahaan. Pencocokkan yang baik akan memaksimalkan kekuatan

dan peluang perusahaan dan meminimumkan kelemahan dan ancamannya. Asumsi sederhana ini mempunyai implikasi yang kuat untuk design strategi yang sukses.
            Menurut Wikipedia, analisis SWOT (singkatan bahasa Inggris dari kekuatan/strengths, kelemahan/weaknesses, kesempatan/opportunities, dan ancaman/threats) adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.
            Menurut Robert W.Duncan (2007), menganalisa lingkungan internal dan eksternal merupakan hal penting dalam proses perencanaan strategi. Faktor-faktor lingkungan  internal  di  dalam  perusahaan  biasanya  dapat  digolongkan  sebagai Strength (S) atau Weakness (W), dan lingkungan eksternal perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai Opportunities (O) atau Threat (T). Analisis lingkungan strategi ini disebut sebagai analisis SWOT.
            Menurut Thompson (2008), analisa SWOT adalah simpel tetapi merupakan alat bantu yang sangat kuat untuk memperbesar kapabilitas serta mengetahui ketidakefisienan sumber daya perusahaan, kesempatan dari pasar dan ancaman eksternal untuk masa depan agar lebih baik lagi.
            Menurut Fred David (1997), analisa SWOT adalah adalah metode perencanaan strategis yang berfungsi untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman suatu perusahaan.
            Para analisis SWOT memberikan informasi untuk membantu dalam hal mencocokan perusahaan sumber daya dan kemampuan untuk menganalisa kompetitif lingkungan di mana bidang perusahaan itu bergerak. Informasi tersebut dibuat berdasarkan perumusan strategi dan seleksi.

2.3 BOKASHI
            Kata Bokashi diambil dari bahasa Jepang yang artinya bahan organik yang terfermentasi. Bokashi adalah pupuk organik hasil fermentasi bahan organik dengan menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4) yang dimaksud dengan EM4 yaitu suatu campuran mikroorganisme yang bermanfaat untuk meningkatkan keanekaragaman mikroba dari tanah maupun tanaman, serta berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman. Keunggulan penggunaan teknologi EM4 adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional.
            Larutan Effective Microorganism 4 (EM4) ditemukan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa dari Universitas Ryukyus Jepang dengan kandungan mikroorganisme sekitar 80 genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam memfermentasikan bahan organik. EM4 sendiri mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.
            Dalam proses fermentasi bahan organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik apabila kondisinya sesuai, yaitu apabila dalam kondisi anaerob, pH rendah (3-4), kadar gula tinggi, kadar air 30-40%, dan suhu sekitar 40-50oC.
Secara umum dapat diartikan sebagai proses perombakan atau penguraian bahan organik secara biologis (dengan bantuan mikroflora/mikrofauna) menjadi pupuk yang lebih sederhana dan menyerupai humus, dengan karateristik yang relatif berbeda dari aslinya. Produk ini yang kemudian dikenal sebagai kompos. Kompos umumnya dihasilkan dari sampah organik yang berasal dari sisa makanan, sampah dapur, sayuran, daun-daunan dan sampah organik lainnya.
A. Pembuatan Bokashi
Bahan pembuatan bokashi (jerami, rumput, pupuk hijau, pupuk kandang dan sebagainya) dapat berupa bahan yang sudah kering ataupun masih basah (segar). Ada beberapa jenis bokashi, yaitu :

1. Bokashi Jerami
Bahan yang digunakan:
a)      Jerami sebanyak 10 kg (bisa juga rumput atau tanaman kacangan) yang telah dipotong-potong sehingga jerami berukuran panjang sekitar 5-10 cm.
b)      Dedak sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 10 kg.
c)      EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d)     Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan :
a.       Pertama-tama dibuat larutan dari EM4, molasses/ gula dan air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml :1 liter air.
b.      Bahan jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering.
c.       Selanjutnya bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%).
d.      Adonan selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Gundukan selanjutnya ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Selama dalam proses, suhu bahan dipertahankan antara 40-50 o C. Jika suhu bahan melebihi 50 o C, maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya gundukan ditutup kembali.
e.       Setelah empat hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan berhasil jika bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya adalah bokashi akan ditumbuhi oleh
f.       jamur yang berwarna putih dan aromanya sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang berbau busuk, maka pembuatan bokashi gagal.
g.      Bokashi yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan. Jika bokashi ingin disimpan terlebih dahulu, maka bokashi harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara mengangin-anginkan di atas lantai hingga kering. Setelah kering bokashi dapat dikemas di dalam kantung plastik.
Penggunaan : Bokashi jerami sangat baik digunakan untuk melanjutkan proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. Bokashi jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah.

2. Bokashi Pupuk Kandang
Bahan yang digunakan :
a.       Pupuk kandang sebanyak 15 kg.
b.      Sekam sebanyak 10 kg dan dedak sebanyak 0,5 kg.
c.       Molases atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d.      EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan pupuk kandang. Penggunaan: Penggunaan bokashi pupuk kandang sama dengan penggunaan bokashi jerami. Selain itu bokashi pupuk kandang baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang diaplikasikan dengan tanah pada perbandingan 1:1.

3. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Arang
Bahan yang digunakan :
a.       Pupuk kandang sebanyak 10 kg, dedak sebanyak 0,5 kg, arang sekam/arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg.
b.      Molases\gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
c.       EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang ditambah arang mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan kotoran hewan (pupuk kandang) dan arang sekam\arang serbuk gergaji.

4. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Tanah
Bahan yang digunakan :
a.       Pupuk kandang sebanyak 5 kg dan tanah sebanyak 10 kg.
b.      Arang sekam\arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg dan dedak halus sebanyak 5 kg.
c.       Molases/gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d.      EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang tanah mirip dengan pembuatan bokashi pupuk kandang-arang, hanya perlu ditambahkan tanah. Penggunaan: Bokashi pupuk kandang-tanah baik untuk digunakan di dalam pembibitan tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang cukup dicampur dengan tanah pada perbandingan 1:1.

5. Bokashi Ekspres (24 jam)
Bahan yang digunakan :
a.       Jerami kering, daun kering, serbuk gergajian dan bahan lainnya sebanyak 10 kg.
b.      Pupuk kandng sebanyak 5 kg dan dedak sebanyak 1 kg.
c.       Molases\gula pasir sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d.      EM4 sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi ekspres sama dengan cara pembuatan bokashi pupuk kandang-tanah, hanya bahan-bahan yang akan difermentasikan dicampur dengan bokashi yang sudah jadi dan dedak secara merata. Proses fermentasi hanya berlangsung selama 24 jam dan sesudahnya bahan dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik. Penggunaan : Bokashi ekspres sangat baik untuk dijadikan mulsa pada pertanaman sayuran dan buah-buahan. Cara penggunaan : Cara pengaplikasian bokashi adalah sebagai berikut :
1. Untuk lahan tegalan dan sawah
            Penggunaan bokashi untuk setiap meter perseginya adalah sekitar 3-4 genggam bokashi, kecuali pada tanah yang kurang subur dapat dilebihkan. Bokashi disebar merata di atas permukaan tanah. Pemberian dapat juga dilakukan dengan cara mencampur bokashi dan tanah. Hal ini dapat dilakukan pada waktu pengolahan tanah. Sedangkan pada tanah sawah pemberian bokashi dilakukan saat pembajakan dan setelah tanaman berumur 14 hari dan 30 hari.
2. Untuk tanaman buah-buahan
            Bokashi disebar secara merata di permukaan tanah atau di sekitar daerah perakaran. Selanjutnya larutan EM4 disiramkan dengan dosis 2 ml per liter air setiap dua minggu sekali.
3. Untuk pembibitan
            Lahan yang akan dijadikan sebagai tempat pembibitan disiram dengan larutan EM4 dengan dosis 2 ml per liter air. Selanjutnya lahan dibiarkan selama satu minggu sebelum lahan siap untuk digunakan.
2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Pengomposan
            Proses pengomposan dipengaruhi oleh beberapa hal yang bekaitan dengan aktivitas mikroorganisme selama proses pengomposan berlangsung
a.       Ukuran dan jenis bahan organik Salah satu komponen penting untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari pengomposan. Ukuran bahan organik yang relatif lebih kecil akan mempermudah percepatan proses pengomposan, disamping ukuran, jenis dan karakter dari bahan organik juga sangat menentukan, misalkan gabah, partikel kayu/ranting, sabut kelapa, yang semuanya relatif mempunyai unsur karbon yang tinggi. Pencacahan bahan organik jelas akan sangat membantu kecepatan pengomposan, perlakuan awal dan proporsional campuran jenis bahan organik yg digunakan juga sangat membantu percepatan dan kualitas hasil pengomposan. Ukuran partikel juga sangat mempengaruhi proses percepatan pengomposan. Ukuran partikel bahan yang optimal untuk dikomposkan berkisar dari 1/8 inci hingga 1/2 inci, ukuran ini sangat relatif.

b.      Keseimbangan Nutrisi (Rasio C:N)
sangat berpengaruh terhadap kinerja mikroorganisme dalam merombaka bahan organik selama proses pengomposan berlangsung. Karbon (C) dibutuhkan oleh mikroorganisme, seperti bakteri, jamur dan aktinomisetes sebagai sumber energi (makanan), sedangkan Nitrogen (N) yang umumnya berasal dari protein yang terkandung dalam bahan organik diperlukan untuk membiakan diri. Apabila kandungan C terlalu tinggi maka proses pengomposan akan cenderung menurun (melambat), namun apabila kandungan N terlalu tinggi maka umumnya akan cenderung menimbulkan bau ammonia atau bahkan cenderung mengarah pada pembusukan (putrefaction). Keseimbangan rasio C:N dalam pengomposan secara umum berkisar antara 20-40 bagian karbon(C) yang berbanding dengan 1 bagian Nitrogen (N).

c.       Suhu atau Temperatur 
Proses pengomposan adalah merupakan hasil pelepasan energi reaksi eksotermik dalam tumpukan. Kenaikan suhu selama proses pengomposan sangat menguntungkan bagi beberapa jenis mikroorganisme thermofilik, akan tetapi proses pengomposan yg tidak terkontrol, misalkan suhu di atas 65-70 °C akan menyebabkan aktivitas populasi mikroorganisme menjadi menurun drastis. Untuk menjaga kondisi suhu yang optimum sedianya suhu dalam tumpukan dipertahankan antara 50-60 °C, selama kurun waktu 9-11 hari pertama sejak awal pengomposan atau cukup 7-9 hari pertama dengan menjaga suhu berkisar antara 60-65 °C. Kondisi ini (kurva suhu tumpukan kompos) juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti karakter bahan organik yang dikomposkan, nisbah volume tumpukan atau timbunan yang berbanding dengan permukaan tumpukan. Makin tinggi volume tumpukan maka makin besar isolasi panas yang terjadi dalam tumpukan bahan yang dikomposkan.

d.      Kelembaban atau Kadar Air
Dalam proses pengomposan adalah penting. Air merupakan media reaksi kimia atau pelarut media membawa nutrisi dan bahan utama bagi kehidupan mikroorganisme. Jika kondisi kadar air (kelembaban) dalam tumpukan bahan yang dikomposkan sangat rendah, maka proses pengomposan akan berjalan sangat lambat, sebaliknya apabila kadar air terlalu tinggi proses pengomposan juga akan kurang baik, dimana ruang oksigen dalam tumpukan akan berkurang serta akan menimbulkan bau yang kurang sedap, proses pengomposan akan cenderung pada anaerob. Kondisi kelembaban yang optimal berkisar antara 45%-60%. Untuk memperkirakan kadar air dapat dilakukan dengan cara menggenggam/meremas bahan organik, bila tidak menetes cairan dan apabila genggaman dibuka bahan organik akan mengembang namun tidak berhambur, maka diperkirakan kadar airnya telah cukup untuk proses pengomposan tsb. Untuk lebih mudahnya dapat diukur dengan alat pengukur kelembaban ( Gauge Moisture Content).
e.       Aerasi atau Oksigen 
Diperlukan oleh mikroorganisme untuk melakukan respirasi. Selama itu berlangsung  kandungan oksigen tumpukan akan berkurang dan kandungan karbondioksida akan meningkat. Ketika kandungan oksigen dalam tumpukan kurang dari 10% akan menimbulkan bau yang kurang sedap dan proses pengomposan akan mengarah pada kondisi anaerob. Untuk menjaga kondisi udara baik yang jumlahnya besar, dapat dilakukan dengan menyuntikkan udara ke dalam tumpukan atau bila jumlahnya sedikit dapat juga tumpukan dibalik/ diaduk. Pembalikan tumpukan sebaiknya setiap minggu sekali gunanya untuk menghomogenkan bahan-bahan yg dikomposkan dan memberikan proses pengomposan yg stabil antara tumpukan kompos bagian bawah, tengah dan atas.

f.       Bioaktivator 
Adalah penambahan aktivator mikroorganisme yang menguntungkan akan sangat membantu dalam proses percepatan pengomposan, penambahan ini akan memungkinkan kompos yang dihasilkan memiliki karakteristik yang  lebih sehat dan lebih baik bila diterapkan ke dalam tanah.
2.5 Model Pertanian Terpadu                             
Pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan kesanggupan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka”. Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya alam. Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air, manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan. Sedang tujuan pertanian yang berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan basil pada aras yang optimal; mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem; dan yang lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan makhluk hidup lainnya. Sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria, antara lain:
1.      Aman menurut wawasan lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan manusia, tanaman dan hewan sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan, demikian juga kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya terbarukan.
2.      Menguntungkan secara ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya sendiri/ pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk membayar buruh dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut ukuran ekonomi tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga berdasarkan fungsi kelestarian sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang terjadi terhadap lingkungan.
3.      Adil menurut pertimbangan sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan hasil. Semua orang mempunyai kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
4.      Manusiawi terhadap semua bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan dan manusia) prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal dan hubungan kerja sama antar makhluk hidup adalah kebenaran, kejujuran, percaya diri, kerja sama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.
5.      Dapat dengan mudah diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan perubahan kondisi usahatani: pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi yang sepadan, tetapi termasuk juga inovasi sosial dan budaya.

Suatu konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan. Sistem produksi yang dikembangkan berasaskan LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai (Pertanian Berkelanjutan/Lestari, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah). Konsep ini dapat dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional, antara lain: meningkatkan produktivitas, melaksanakan konservasi energi dan sumberdaya alam, mencegah terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara, meningkatkan keuntungan usahatani, memantapkan dan ketenlanjutan konservasi serta sistem produksi pertanian.
Penggunaan sistem pertanaman tumpangsari di negara berkembang maupun negara maju selalu dimotivasi oleh ekspektasi peningkatan pendapatan. Jika produktivitas ditentukan oleh lingkungan ekologis dan faktor-faktor teknis, maka pendapatan dipengaruhi oleh serangkaian faktor-faktor biaya masukan dan pasar.
Observasi Perrin (1977) menunjukkan bahwa secara umum sistem pertanaman berganda atau tumpangsari memiliki tingkat produktivitas lebih tinggi yang tercermin dari lebih tingginya pendapatan kotor per hektar. Profitabilitas sistem pertanaman berganda, termasuk tumpangsari, sangat dipengaruhi oleh pemilihan jenis tanaman serta harga relatif (Horwith 1985). Sementara itu, beberapa penelitian lainnya juga mengindikasikan kemungkinan dicapainya tingkat efisiensi produksi serta pendapatan yang lebih tinggi pada tingkat penggunaan input yang lebih rendah melalui pemanfaatan sistem pertanaman berganda (Brookfield & Padoch 1994; Kirschenman 1989; Newman 1986).
Contoh Model pertanian terpadu dan berkelanjutan berwawasan lingkungan

1. Pertanian terpadu biosiklus
Pertanian terpadu biosiklus adalah pertanian yang mengintegrasikan tanaman, ternak, dan ikan dalam satu siklus (biosiklus) sedemikian rupa sehingga hasil panen dari satu kegiatan pertanian dapat menjadi input kegiatan pertanian lainnya, selebihnya dilepas ke pasar. Dengan pola itu ketergantungan petani dengan input produksi dari luar dapat diminimalisasi. Misalnya pakan untuk ternak dan ikan sebagian dapat dipenuhi dari hasil tanaman dan limbah, sedangkan kebutuhan pupuk organik dapat diperoleh dari kotoran hasil ternak.
Kotoran ternak ditampung dalam biodigester untuk diambil gas metannya dan dapat dimanfaatkan untuk memasak bahkan untuk energi listrik. Dengan sistem pertanian terpadu biosiklus itu, petani memperoleh sumber penghasilan yang beragam dari diversifikasi produk hasil pertanian; panen harian (misal telur, susu), panen musiman (misal gabah, jagung) dan panen tahunan (anak sapi), meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya, kebutuhan pangan yang bergizi seimbang tercukupi (mendekati PPH ideal) dari usaha tani mereka, kesuburan lahan terjaga dan tanpa limbah (zero waste). Data penelitian lapangan menunjukkan bahwa dengan sistem pertanian terpadu itu, petani kecil dapat memperoleh pendapatan per bulan lebih besar daripada UMR.

2. Pertanian Organik Modern
Pertanian ramah lingkungan salah satunya adalah dengan menerapkan pertanian organik. Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, Pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik. Bila kita sepenuhnya mengacu kepada terminologi (pertanian organik natural) ini tentunya sangatlah sulit bagi petani untuk menerapkannya, oleh karena itu pilihan yang dilakukan adalah melakukan pertanian organik regenaratif, yaitu pertanian dengan perinsip pertanian disertai dengan pengembalian ke alam masukan-masukan yang berasal dari bahan organik.
Pengelolaan pertanian yang berwawasan lingkungan dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan menguntungkan, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Pemilihan komoditas dan areal usaha yang cocok merupakan kunci dalam pelaksanaan pembangunan pertanian berkelanjutan, komoditas harus yang menguntungkan secara ekonomis, masyarakat sudah terbiasa membudidayakannya, dan dibudidayakan pada lahan yang tidak bermasalah dari segi teknis, ekologis dan menguntungkan secara ekonomis.
Beberapa perinsip dasar yang perlu diperhatikan adalah: (1) pemanfaatan sumberdaya alam untuk pengembangan agribisnis hortikultura (terutama lahan dan air) secara lestari sesuai dengan kemampuan dan daya dukung alam, (2) proses produksi atau kegiatan usahatani itu sendiri dilakukan secara akrab lingkungan, sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dan eksternalitas pada masyarakat, (3) penanganan dan pengolahan hasil, distribusi dan pemasaran, serta pemanfaatan produk tidak menimbulkan masalah pada lingkungan (limbah dan sampah), (4) produk yang dihasilkan harus menguntungkan secara bisnis, memenuhi preferensi konsumen dan aman konsumsi. Keadaan dan perkembangan permintaan dan pasar merupakan acuan dalam agribisnis hortikultura ini.
Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

3. Sistem Tanam Tumpangsari (Multiple Cropping)
Sistem pertanaman berganda atau tumpangsari adalah definisi umum dari semua pola pertanaman yang melibatkan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan. Prinsip esensial yang terkandung di dalamnya adalah penanaman beberapa jenis tanaman secara sekaligus pada sehamparan lahan (intercropping) dan penanaman beberapa jenis tanaman secara bertahap pada sehamparan lahan (sequentialcropping) (Steiner 1984).
Multiple cropping atau sistem tanam ganda merupakan suatu usaha pertanian untuk mendapatkan hasil panen lebih dari satu kali dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman pada sebidang tanah yang sama dalam satu tahun. Dalam hal ini tanaman-tanaman yang ada disitu akan melakukan suatu hubungan atau interaksi. Hubungan-hubungan tersebut ada yang bersifat kompetitif, yaitu apabila tanaman yang satu dapat merintangi pertumbuhan atau bersaing dengan tanaman lain dengan tanaman lain dalam pemanfaatan unsur hara, air, oksigen dan cahaya matahari. Bersifat komplementer, yaitu apabila masing-masing tanaman justru akan tumbuh dan berproduksi lebih baik dibanding tanaman monokultur.
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
                  Praktikum pertanian terpadu : budidaya kacang panjang secara pertanian terpadu multi cropping dilaksanakan pada setiap hari Kamis pukul 13.00 WIB atau Sabtu pukul 17.00 WIB - selesai di Lahan UPT Fakultas Pertanian Universitas Riau Pekan Baru (RIAU).
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Budidaya Tanaman Pertanian Terpadu (Kacang Panjang)
                 Alat yang digunakan pada praktikum pertanian : Cangkul, Parang, Tali Rapia, Meteran, Ajir.
                       Bahan yang digunakan dalam praktikum penanaman Kacang panjang: Benih Kacang Panjang, Pupuk Kandang, Pupuk Urea, Bokashi.
3.2.2 Survei dan Evaluasi Komponen, Keterpaduan UPT Fakultas Pertanian
                 Alat yang digunakan pada praktikum : Alat yang digunakan pada praktikum pertanian : Pena, Buku, Alat Tulis, Peta Lokasi
                       Kami melakukan wawancara terhadap nara sumber yang mengelola lahan pertanian tersebut. Sehingga hasil yang kami dapat dari nara sumber mencatat apa yang Nara sumber ucapkan.
3.2.3 Pembuatan BOKASHI
                 Alat yang digunakan pada praktikum pertanian terpadu ini adalah : Karung bekas, Plastik 5kg, Tali.
                 Bahan yang digunakan dalam praktikum pertanian terpadu ini adalah: Serbuk Gergaji, Pupuk Kandang, EM4 (Effective Microorganisme), Dedak, Molasses, Air.
3.2.4 Survei dan Evaluasi Lokasi Perternakan
                 Alat yang digunakan pada praktikum pertanian : Pena, Buku, Alat Tulis, Peta Lokasi.
                       Kami melakukan wawancara terhadap nara sumber yang mengelola lahan pertanian tersebut. Sehingga hasil yang kami dapat dari nara sumber mencatat apa yang Nara sumber ucapkan.
3.3 Pelakasanaan  Praktikum
            Prosedur pelaksanaan praktikum Pertanian Terpadu pada budidaya komoditi tanaman Kacangan Panjang dengan sistem bokashi adalah sebagai berikut :
  1. Siapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktikum
  2. Kemudian kami mengukur lahan yang akan digunakan didalam  praktikum
  3. Setelah kami mengukur lahan yang akan digunakan, kami melakukan pengolahan lahan pertama.
  4. Setelah semuanya dilakukan, kami mendiamkan lahan selama satu minggu
  5. kegiatan selanjutnya yang kami lakukan adalah penanaman benih kacang panjang yang telah sediakan.
  6. Kemudian kami melakukan pembuatan bokashi yang akan diaplikasikan pada lahan yang telah kami olah.
  7. Didalam praktikum selanjutnya kami melakukan perawatan pada lahan dan pengamatan Bokashi yang telah dilakukan.
  8. Kemudian didalam Praktikum selanjutnya kami melakukan survey pada lahan UPT Fakultas Pertanian
  9. Setelah itu kami mencari masyarakat yang menggunakan sistem pertanian terpadu dan melakukan survey, sehingga kami mendapatkan hasil dari survey.
  10. Setelah kami melakukan praktikum-praktikum mengikuti prosedur, kami tetap melakukan perawatan terhadap Tanaman yang kami budidaya dalam sistem pertanian terpadu sampai praktikum pertanian terpadu selesai.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari kegiatan praktikum pertanian terpadu tentang budidaya kacang panjang secara pertanian terpadu multi cropping ini maka dapat hasil data pengamatan bokashi sebagai berikut.
4.1 Budidaya Tanaman Pertanian Terpadu (Kacang Panjang)
            Media tanam yang cocok untuk budidaya tanaman kacang panjang adalah Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik. Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar.
            Dengan adanya Bokashi adalah pupuk organik hasil fermentasi bahan organik dengan menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4) yang dimaksud dengan EM4 yaitu suatu campuran mikroorganisme yang bermanfaat untuk meningkatkan keanekaragaman mikroba dari tanah maupun tanaman, serta berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman.
            Ternyata setelah dilihat dari hasil yang didapat dalam pertumbuhan kacang panjang dengan penggunaan bokashi tidak dapat kami lihat nyat, karena perawatan yang kami lakukan kurang intensif. Sehingga kami gagal dalam menerapkan sistem pertanian terpadu terhadap tanaman kacang panjang.
4.2 Survei dan Evaluasi Komponen, Keterpaduan UPT Fakultas Pertania
                       Survei lahan UPT yang telah kami lakukan didapatkan bahwa tanaman yang ditanam dilahan tersebut menanam sitem tanam Multiple Croping (Tanaman Tumpang Sari).
Multiple cropping atau sistem tanam ganda merupakan suatu usaha pertanian untuk mendapatkan hasil panen lebih dari satu kali dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman pada sebidang tanah yang sama dalam satu tahun. Dalam hal ini tanaman-tanaman yang ada disitu akan melakukan suatu hubungan atau interaksi. Hubungan-hubungan tersebut ada yang bersifat kompetitif, yaitu apabila tanaman yang satu dapat merintangi pertumbuhan atau bersaing dengan tanaman lain dengan tanaman lain dalam pemanfaatan unsur hara, air, oksigen dan cahaya matahari. Bersifat komplementer, yaitu apabila masing-masing tanaman justru akan tumbuh dan berproduksi lebih baik dibanding tanaman monokultur.
4.3 Pembuatan BOKASHI dan Aplikasinya
Cara pembuatan bokashi adalah sebagai berikut :
1.      Larutkan EM-4 dan gula ke dalam air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml : 1 liter.
2.      Pupuk kandang dan dedak dicampur secara merata.
3.      Siramkan larutan EM-4 secara perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan, dan bila kepalan dilepas maka adonan akan segar.
4.      Adonan yang telah tercampur rata didalam ember kemudian ditutup dengan plastic yang telah diberi lubang-lubang kecil agar suhu tidak terlalu tinggi.
5.      Pertahankan suhu adonan 40-50 oC, bukalah penutup plastik. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukkan. Pengecekan suhu dan pH dilakukan setiap 2 hari sekali.
6.      Setelah 14 hari Bokashi telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.

              Adapun aplikasi dari bokashi yaitu Bokashi dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman meskipun bahan organiknya belum terurai seperti pada kompos. Dengan formulasi bahan-bahan maka sangat mudah untuk mengontrol jumlah vitamin untuk tanaman.  Bokashi dapat langsung mensuplai unsur berbagai tanaman sedangkan pupuk yang lain mensuplai hara dalam tanah.

4.4 Survei dan Evaluasi Lokasi Perternakan
            Dari kegiatan survai yang kami lakukan maka didapatkan informasi lokasi perternakan sebagai berikut :
Institusi Usaha                   : Perikanan Bapak Joko
Nama Pemilik                    : Joko Setio
Usia                                   : 20 th
Jenis Usaha                        : Perikanan
Jenis Ikan                           : Gurami dan Lele
Kolam yang dimiliki          : 20 unit kolam (8m x 4m)
Harga jual                          : Lele Rp 12000/Kg, Gurami Rp 35000/Kg
Sistem Penjualan               : Menjual ke tengkulak/pengumpul
Waktu Panen                     : Lele setiap 3bulan, Gurami setiap 8bulan

Perikanan Bapak Joko (20th) dalam bidang usaha perikanan dapat dikatakan masih merintis agar berkembang dalam skala yang lebih besar, hal ini perlu dilakukan perkembangan dan perbaikan yang lebih baik untuk membuat usaha lebih maju.Dengan 20 unit kolam yang dimiliki diantaranya 12 kolam diisi dengan lele dan sisanya diisi ikan gurami dapat berpenghasilan maksimal 5 juta/bulan.
Dengan usianya yang relatif muda, keinginan dalam membuat suatu wirausaha sangatlah luar biasa. Dimulai dari hanya memelihara ikan di dalam  aquarium, hingga memelihara ikan dikolam. Sudah menjadi sesuatu hobi bagi Bapak Joko untuk menjalani usahanya tersebut.
Keterpaduan kegiatan agribisnis pada usaha ini dapat dilihat dari pemberian makan ikan gurami dengan menggunakan potongan kecil daun talas yang diperbanyak olehnya yang berasal dari umbi tanaman talas tersebut.Selain itu Bapak Joko juga berencana dalam membuat jaringan hidroponik tanaman paprika dengan menggunakan sirkulasi air dari kolam lele yang dikabarkan memiliki banyak nutrisi yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman paprika. 
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Untuk menerapkan sistem Pertanian Terpadu, seharusnya dilakukan dengan cara yang Intensif. Tetapi, didalam praktikum yang kami lakukan penerapannya tidak intensif sehingga hasil yang kami dapatkan tidak maksimal.
2.      Bokashi adalah sebuah metode pengomposan yang dapat menggunakan starter aerobic maupun anaerobic untuk mengkomposkan bahan organic yang biasanya berupa campuran molasses, air, starter mikroorganisme dan Serbuk Gergaji. Kompos yang sudah jadi dapat digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini dapat diulang dengan cara yang lebih efisien.
3.      Dari survey yang kami dapatkan di Lahan UPT Fakultas Pertanian, tanaman yang secara sistem pertanian terpadu didapatkan secara sistem Multiple Cropping/ Tanaman Tumpang Sari.
4.      Hasil Survey yang kami dapat didalam melakukan evaluasi lokasi perternakan bahwa nara sumber melakukan sistem pertanian terpadu dengan perternakan ikan dan menanm umbi tanaman talas tersebut.
5.2 Saran
            Dalam melakukan budidaya tanaman kacang panjang dengan bokashi dapat disarankan bahwa kita harus memperhatikan keadaan kematangan bokashi sebelum diaplikasihkan karna dari kematangan itu akan terlihat daya tumbuh tanaman kacang panjang tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
            Altieri, M.A., D.K. Letourneau, and J.R. Davis. 1983. Developing sustainable        agroecosystems. Biosci.33(1):45-48
            Anonim. 2011. Pertanian Berkelanjutan. http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbpp-     binuang/index.php?option=com_content&task=view&id=70&Itemid=1
            Brookfield, H. and C. Padoch. 1994. Appreciating agrodiversity: A look at the      dynamism and diversity of indigenous farming     practices.Environment. 36(5):37-45.
Dover,M. dan Talbot,L.M., 1987. To Feed The Earth: Agroecology for       Sustainable Development. World Resources Intitute. Washington DC.
            Dunlap, R., C. Beus, R. Howell, and J. Waud, 1992. “What is sustainable   agriculture? An empirical examination of faculty and farmer      definitions.” J.Sustainable Agric. 3(1):5-39.
Handayanto, E. 1999. Pengelolan Kesuburan TanahFakultas Pertanian.    Universitas Brawijaya. Malang.
Hardjowigeno, S., 1989.   Ilmu Tanah.  Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/Bab%202_10-08.pdf/ diakses tanggal 04-06-      2013/ pukul 12.00 wib
            Johanis, M. U. 2003. Pertanian Berkelanjutan Pertanian Konservasi.            (Online).www.sinarharapan.com.
            Kirschenman, F. 1989. Low input farming in practice: Putting a system together    and making it work. Amer. J. Alternative Agric. 4(3):106-110.
Manuwoto. 2009. Sistem Pertanian di Indonesia.                 Http://makhey.blogspot.com/2009/09/sistem-pertanian-di indonesia           diakses pada tanggal 01-06-2013.                                                                                                                                  
Notohadinagoro, Tejoyuwono. 1997. Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan      Sebagai Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Makalah Seminar      Nasional dan Pelatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di             Jember. Universitas Jember. Jember.
            Perrin, R.M. 1977. Pest management in multiple cropping systems. Agro-    Ecosystems. 3:93-118.
            Safuan, Ode La dkk. 2002. Pertanian Terpadu Suatu Strategi Untuk Mewujudkan             Pertanian Berkelanjutan. (Online). www. Litbang.deptan.go.id Diakses           tanggal 15 Maret 2008.
            Sagala, Danner. 2007. Hambatan dan Peluang Pertanian Berkelanjutan. (Online)    www.wordpress.com.
            Salikin A, Karwan. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Kanisius, Yogyakarta
            Saputra, Umar H. 2002. Pertanian Terpadu Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa        Indonesia. (Online). www. Litbang.deptan. go.id Diakses tanggal 15 Maret        2008.
            Tantri, Diah. 2007. Pertanian Terpadu Lebih Menguntungkan.         (Online).www.wordpress.com.
            Vandermeer, J. 1998. Maximizing crop yield in alley crops. Agroforestry Systems. 40:199-206.