I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertanian terpadu merupakan sistem pertanian yang selaras
dengan kaidah alam, yaitu mengupayakan suatu keseimbangan di alam dengan
membangun suatu pola relasi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan di
antara setiap komponen ekosistem pertanian yang terlibat, dengan meningkatkan
keanekaragaman hayati dan memanfaatkan bahan-bahan limbah organik. Pada
dasarnya alam diciptakan dalam keadaan seimbang oleh sang pencipta, sehingga
alam mempunyai cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan dan
manusia sebagai bagian dari unsur alam memiliki tugas untuk mengelola sumber
daya alam dan lingkungan dengan baik dan proporsional.
Pola pertanian terpadu merupakan
kombinasi antara pola pertanian tradisional dengan ilmu pengetahuan modern di
bidang pertanian yang berkembang terus. Pada pelaksanaan pertanian terpadu
lebih banyak memanfaatkan potensi lahan yang ada dengan memperhatikan dampak
terhadap lingkungan sekitar serta dengan pengelolaan manajemen modern yang
dikelola secara profesional dan terpadu. Tujuan dari sistem pertanian terpadu antara lain yaitu,
memasyarakatkan sistem pertanian terpadu sebagai pertanian yang lestari dimana
lokasi tanah diperhatikan dan ditingkatkan untuk menjamin kelangsungan siklus
yang berkesinambungan. Membentuk masyarakat tani yang mandiri dan peduli
lingkungan dan sadar akan jati dirinya sebagai penjaga alam. Meningkatkan taraf
hidup kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata dengan pola pikir maju dan
pola hidup sederhana. Membentuk suatu ikatan kerjasama dalam bentuk pertanian
inti rakyat serta membangun kerjasama yang sejajar dalam memenuhi kebutuhan
sektor pertanian. Memenuhi kebutuhan pasar akan makanan yang sehat dan bebas
polusi guna meningkatkan kualitas dalam persaingan.
Dalam prakteknya, sistem pertanian
terpadu tidaklah semudah dan sesederhana seperti yang banyak disangka orang.
Diperlukan strategi-strategi jitu agar tujuan dari sistem pertanian terpadu
dapat tercapai sesuai dengan apa yang telah diharapkan. Strategi yang
harus dibangun adalah usaha tani terpadu yang berorientasi kepada pasar serta
pelestarian nilai budaya tradisional dengan sistem kegiatan manajemen modern.
Strategi-strategi yang perlu dibangun tersebut yaitu, yang pertama ialah
pertanian tradisional dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya yang dimiliki
serta dikelola dengan manajemen modern yang bertujuan mengurangi ketergantung
terhadap pupuk anorganik.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum Pertanian terpadu adalah memberikan pengetahuan kepada
mahasiswa tentang peran faktor lingkungan (biotik dan abiotik) dalam sistem
pertanian, mahasiswa dapat menganalisis komponen-komponen dalam sistem pertanian dan
menuangkannya dalam bentuk bahasan yang mengupas kondisi di setiap tipe sistem
pertanian serta mencermati setiap tipe pemanfaatan lahan baik secara umum
maupun khusus.
II. LANDASAN
TEORI
2.1 Budidaya Tanaman Kacang Panjang
Adapun
budidaya dari kacang panjang adalah sebagai berikut :
Syarat Tumbuh
Lahan yang cocok adalah sawah
berpengairan teknis dengan ketinggian tempat sekitar 600m dpl, suhu 25-35oC,
pH tanah 5,5-6,5 dengan struktur tanah yang gembur dan kaya bahan organik.
Musim yang tepat untuk budidaya kacang panjang pada musim kemarau. Iklimnya
kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun (Guramalem. 2011).
Media tanam yang cocok untuk budidaya
tanaman kacang panjang adalah Hampir
semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik
adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan
organik dan drainasenya baik. Tanah kemasaman (pH) sekitar
5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkan pecahnya
nodula-nodula akar.
Teknik budidaya
A. Persiapan Lahan
·
Pembentukan bedengan
Lahan dibersihkan dari rumput-rumput
liar, dicangkul/dibajak sedalam 30 cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit
keliling, biarkan tanah dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah
bedengan dengan ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30
cm, panjang tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan
lebar atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm.
·
Pengapuran
Pengapuran dilakukan jika pH tanah
lebih rendah dari 5,5 dengan dosis tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur
pertanian dalam bentuk kalsit, dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha
tergantung dari pH awal dan jumlah Alumunium. Kapur dicampur secara merata
dengan tanah pada kedalaman 30 cm.
·
Penambahan pupuk kandang
Pada saat pembentukan bedengan atau
guludan tambahkan 10-20 ton/ha pupuk kandang, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur
merata dengan tanah sambil dibalikkan
B. Persiapan
Benih
Benih kacang panjang yang baik dan
bermutu adalah yang memiliki penampilan bernas/berisi, memiliki ukuran yang
seragam dan normal, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak
mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara 15-20
kg. Benih tidak usah disemaikan secara
khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang telah disiapkan.
C. Penanaman
Pembuatan jarak
lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm. Dan
jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm. Kedalaman lubang tanam
jangan terlalu dalam karena bisa menghambat pertumbuhan benih,
cukup benih bisa tertutup oleh tanah saja sekitar 5 cm. Benih yang dimasukkan
dalam lubang tanam cukup 2 biji saja. Waktu tanam yang baik adalah awal musim
kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air
tanahnya memadai.
D. Pemeliharaan
·
Penyulaman benih kacang
panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Benih yang tidak tumbuh segera disulam.
·
Pemupukan
Pupuk Dasar, Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100 kg/ha.
Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45
kg + KCl 45 kg/ha. Kacang hibrida: 85 kg
Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha. Pupuk diberikan di dalam lubang
pupuk yang terletak di kiri-kanan lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan
untuk satu tanaman tergantung dari jarak tanam.
Pupuk Susulan, Pupuk susulan tanaman
kacang panjang tipe merambat, diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa
urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk susulan untuk kacang panjang tipe tegak
diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk berupa urea 85 kg/ha.
a. Pengairan
Pada fase awal pertumbuhan benih hingga
tanaman muda, penyiraman dilakukan rutin tiap hari. Pengairan berikutnya
tergantung musim.
b. Hama dan Penyakit kacang panjang
Lalat kacang (Ophiomya phaseoli
Tryon) Gejala:
terdapat bintik-bintik putih sekitar tulang daun, pertumbuhan tanaman yang
terserang terhambat dan daun berwarna kekuningan, pangkal batang terjadi
perakaran sekunder dan membengkak. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman
yang bukan dari famili kacang-kacangan dan penyemprotan dengan insektisida
berbahan aktif asefat dengan konsentrasi 1gr/liter.
Kutu daun (Aphis cracivora Koch) Gejala: pertumbuhan terlambat karena
hama mengisap cairan sel tanaman dan penurunan hasil panen. Kutu bergerombol di
pucuk tanaman dan berperan sebagai vektor virus. Pengendalian: dengan rotasi
tanaman dengan tanaman bukan famili kacang-kacangan dan penyemprotan
insektisida berbahan aktif abamektin dengan konsentrasi 0,5ml/liter.
Ulat grayak (Spodoptera litura F.) Gejala: daun berlubang dengan ukuran
tidak pasti, serangan berat di musim kemarau, juga menyerang polong.
Pengendalian: dengan peraikan kultur teknis, rotasi tanaman, penanaman
serempak, perangkap hama kimiawi dan insektisida klorpirifos dengan konsentrasi
1-2ml/liter.
Penggerek biji (Callosobruchus
maculatus L) Gejala:
biji dirusak berlubang-lubang, hancur sampai 90%. Pengendalian: dengan
membersihkan dan memusnahkan sisa-sisa tanaman tempat persembunyian hama. Benih
kacang panjang diberi perlakuan minyak jagung 10 cc/kg biji.
Ulat bunga ( Maruca testualis)
Gejala:
larva menyerang bunga yang sedang membuka, kemudian memakan polong.
Pengendalian: dengan rotasi tanaman dan menjaga kebersihan kebun dari sisa-sisa
tanaman. Disemprot dengan insektisida berbahan aktif triazofos dengan
konsentrasi 1-2ml/liter.
Antraknose Penyebab: jamur Colletotricum
lindemuthianum. Gejala: serangan dapat diamati pada bibit yang baru
berkecamabah, semacam kanker berwarna coklat pada bagian batang dan keping
biji. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perlakuan benih sebelum ditanam
dengan fungisida mankozeb dan karbendazim.
Penyakit mozaik Penyebab: virus Cowpea Aphid Borne
Virus/CAMV. Gejala: pada daun-daun muda terdapat gambaran mosaik yang warnanya
tidak beraturan. Penyakit ditularkan oleh vektor kutu daun. Pengendalian:
dengan menggunakan benih yang sehat dan bebas virus, disemprot dengan
insektisida yang efektif untuk kutu daun dengan bahan aktif abamektin dan
tanaman yang terserang dicabut dan dibakar.
Penyakit sapu Penyebab: virus Cowpea Witches-broom
Virus/Cowpea Stunt Virus. Gejala: pertumbuhan tanaman terhambat, ruas-ruas
(buku-buku) batang sangat pendek, tunas ketiak memendek dan membentuk
"sapu". Penyakit ditularkan kutu daun. Pengendalian: sama dengan
pengendalian penyakit mosaik.
Layu bakteri Penyebab: bakteri Pseudomonas
solanacearum E.F. Smith. Gejala: tanaman mendadak layu dan serangan
berat menyeabkan tanaman mati. Pengendalian: dengan rotasi tanaman, perbaikan
drainase dan mencabut tanaman yang mati, dan penyemprotan fungisida bahan aktif
mankozeb atau klorotalonil dengan konsentrasi 2-3gr/liter.
E. Panen
Ciri-ciri kacang panjang yang siap
dipanen adalah ukuran dan panjang polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan
biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada
pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3,5-4 bulan. Cara panen pada tanaman
kacang panjang cukup memotong pangkal buahnya saja. Produksi polong muda per
satuan luas dapat mencapai minimal 2,0 ton/ha, tergantung varietasnya. Pada
varietas KP-I dapat mencapai 6,2 ton/ha dan KP-2 sebesar 2,1 ton/ha.
2.2 Analisis SWOT
Menurut
Kurtz (2008), SWOT analisis adalah suatu alat perencanaan strategik yang
penting untuk membantu perencana untuk membandingkan
kekuatan dan kelemahan internal organisasi dengan kesempatan dan ancaman dari external.
Menurut
Pearce and Robinson (2003), analisis SWOT
perlu dilakukan karena analisa SWOT untuk mencocokkan “fit” antara sumber daya internal
dan situasi eksternal perusahaan. Pencocokkan yang baik akan memaksimalkan kekuatan
dan peluang
perusahaan dan meminimumkan kelemahan dan ancamannya. Asumsi
sederhana ini mempunyai implikasi
yang kuat untuk design strategi yang sukses.
Menurut Wikipedia,
analisis SWOT (singkatan bahasa Inggris dari kekuatan/strengths, kelemahan/weaknesses, kesempatan/opportunities, dan ancaman/threats) adalah metode perencanaan
strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam suatu proyek atau suatu spekulasi
bisnis. Proses ini melibatkan
penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi
bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam
mencapai tujuan tersebut.
Menurut
Robert W.Duncan (2007), menganalisa
lingkungan internal dan eksternal merupakan
hal penting dalam proses
perencanaan strategi. Faktor-faktor
lingkungan internal di dalam perusahaan
biasanya
dapat
digolongkan
sebagai
Strength (S) atau Weakness (W), dan lingkungan eksternal
perusahaan dapat
diklasifikasikan sebagai Opportunities (O) atau Threat
(T). Analisis lingkungan strategi ini disebut sebagai analisis SWOT.
Menurut
Thompson (2008), analisa SWOT adalah
simpel tetapi merupakan alat bantu yang sangat kuat untuk memperbesar
kapabilitas serta mengetahui
ketidakefisienan sumber daya perusahaan, kesempatan dari pasar dan ancaman eksternal untuk masa depan agar lebih
baik lagi.
Menurut
Fred David (1997), analisa SWOT adalah adalah metode
perencanaan strategis yang berfungsi
untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman suatu perusahaan.
Para analisis
SWOT memberikan informasi untuk membantu dalam hal
mencocokan perusahaan sumber
daya dan kemampuan untuk menganalisa kompetitif lingkungan di mana
bidang perusahaan itu bergerak. Informasi
tersebut dibuat berdasarkan perumusan
strategi dan seleksi.
2.3 BOKASHI
Kata Bokashi diambil dari bahasa Jepang yang
artinya bahan organik yang terfermentasi. Bokashi adalah pupuk organik hasil
fermentasi bahan organik dengan menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4)
yang dimaksud dengan EM4 yaitu suatu campuran mikroorganisme yang bermanfaat
untuk meningkatkan keanekaragaman mikroba dari tanah maupun tanaman, serta
berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman. Keunggulan penggunaan teknologi EM4
adalah pupuk organik (kompos) dapat dihasilkan dalam waktu yang relatif singkat
dibandingkan dengan cara konvensional.
Larutan Effective
Microorganism 4 (EM4) ditemukan pertama kali oleh Prof. Dr. Teruo Higa
dari Universitas Ryukyus Jepang dengan kandungan mikroorganisme sekitar 80
genus. Mikroorganisme tersebut dipilih yang dapat bekerja secara efektif dalam
memfermentasikan bahan organik. EM4 sendiri mengandung Azotobacter sp.,
Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa.
Bahan untuk pembuatan bokashi dapat diperoleh dengan mudah di sekitar lahan
pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau
serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik digunakan sebagai bahan
pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik
untuk mikroorganisme.
Dalam proses fermentasi bahan
organik, mikroorganisme akan bekerja dengan baik apabila kondisinya sesuai,
yaitu apabila dalam kondisi anaerob, pH rendah (3-4), kadar gula tinggi, kadar
air 30-40%, dan suhu sekitar 40-50oC.
Secara
umum dapat diartikan sebagai proses perombakan atau penguraian bahan
organik secara biologis (dengan bantuan mikroflora/mikrofauna) menjadi
pupuk yang lebih sederhana dan menyerupai humus, dengan karateristik
yang relatif berbeda dari aslinya. Produk ini yang kemudian dikenal
sebagai kompos. Kompos umumnya dihasilkan dari sampah organik
yang berasal dari sisa makanan, sampah dapur, sayuran, daun-daunan
dan sampah organik lainnya.
A. Pembuatan Bokashi
Bahan pembuatan bokashi (jerami, rumput, pupuk hijau,
pupuk kandang dan sebagainya) dapat berupa bahan yang sudah kering ataupun
masih basah (segar). Ada beberapa jenis bokashi, yaitu :
1. Bokashi Jerami
Bahan yang digunakan:
a) Jerami
sebanyak 10 kg (bisa juga rumput atau tanaman kacangan) yang telah
dipotong-potong sehingga jerami berukuran panjang sekitar 5-10 cm.
b) Dedak
sebanyak 0,5 kg dan sekam sebanyak 10 kg.
c) EM4
sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d) Molases
atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan :
a. Pertama-tama
dibuat larutan dari EM4, molasses/ gula dan air dengan perbandingan 1 ml : 1 ml
:1 liter air.
b. Bahan
jerami, sekam dan dedak dicampur merata di atas lantai yang kering.
c. Selanjutnya
bahan disiram larutan EM4 secara perlahan dan bertahap sehingga terbentuk
adonan. Adonan yang terbentuk jika dikepal dengan tangan, maka tidak ada air
yang keluar dari adonan. Begitu juga bila kepalan dilepaskan maka adonan
kembali mengembang (kandungan air sekitar 30%).
d. Adonan
selanjutnya dibuat menjadi sebuah gundukan setinggi 15-20 cm. Gundukan
selanjutnya ditutup dengan karung goni selama 3-4 hari. Selama dalam proses,
suhu bahan dipertahankan antara 40-50 o C. Jika suhu bahan melebihi 50 o C,
maka karung penutup dibuka dan bahan adonan dibolak-balik dan selanjutnya
gundukan ditutup kembali.
e. Setelah
empat hari karung goni dapat dibuka. Pembuatan bokashi dikatakan berhasil jika
bahan bokashi terfermentasi dengan baik. Ciri-cirinya adalah bokashi akan
ditumbuhi oleh
f. jamur
yang berwarna putih dan aromanya sedap. Sedangkan jika dihasilkan bokashi yang
berbau busuk, maka pembuatan bokashi gagal.
g. Bokashi
yang sudah jadi sebaiknya langsung digunakan. Jika bokashi ingin disimpan
terlebih dahulu, maka bokashi harus dikeringkan terlebih dahulu dengan cara
mengangin-anginkan di atas lantai hingga kering. Setelah kering bokashi dapat
dikemas di dalam kantung plastik.
Penggunaan : Bokashi jerami sangat baik digunakan untuk melanjutkan
proses pelapukan mulsa dan bahan organik lainnya di lahan pertanian. Bokashi
jerami juga sesuai untuk diaplikasikan di lahan sawah.
2. Bokashi Pupuk Kandang
Bahan yang digunakan :
a. Pupuk
kandang sebanyak 15 kg.
b. Sekam
sebanyak 10 kg dan dedak sebanyak 0,5 kg.
c. Molases
atau gula sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. EM4
sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang mirip dengan
pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan pupuk kandang. Penggunaan:
Penggunaan bokashi pupuk kandang sama dengan penggunaan bokashi jerami.
Selain itu bokashi pupuk kandang baik untuk digunakan di dalam pembibitan
tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang diaplikasikan dengan tanah
pada perbandingan 1:1.
3. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Arang
Bahan yang digunakan :
a. Pupuk
kandang sebanyak 10 kg, dedak sebanyak 0,5 kg, arang sekam/arang serbuk gergaji
sebanyak 5 kg.
b. Molases\gula
sebanyak dua sendok makan (10 ml).
c. EM4
sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang ditambah arang
mirip dengan pembuatan bokashi jerami, hanya jerami digantikan dengan kotoran
hewan (pupuk kandang) dan arang sekam\arang serbuk gergaji.
4. Bokashi Pupuk Kandang Ditambah Tanah
Bahan yang digunakan :
a. Pupuk
kandang sebanyak 5 kg dan tanah sebanyak 10 kg.
b. Arang
sekam\arang serbuk gergaji sebanyak 5 kg dan dedak halus sebanyak 5 kg.
c. Molases/gula
sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. EM4
sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi pupuk kandang tanah mirip
dengan pembuatan bokashi pupuk kandang-arang, hanya perlu ditambahkan tanah. Penggunaan:
Bokashi pupuk kandang-tanah baik untuk digunakan di dalam pembibitan
tanaman. Dalam hal tersebut bokashi pupuk kandang cukup dicampur dengan tanah
pada perbandingan 1:1.
5. Bokashi Ekspres (24 jam)
Bahan yang digunakan :
a. Jerami
kering, daun kering, serbuk gergajian dan bahan lainnya sebanyak 10 kg.
b. Pupuk
kandng sebanyak 5 kg dan dedak sebanyak 1 kg.
c. Molases\gula
pasir sebanyak dua sendok makan (10 ml).
d. EM4
sebanyak dua sendok makan (10 ml) dan air secukupnya.
Cara pembuatan : Cara pembuatan bokashi ekspres sama dengan cara
pembuatan bokashi pupuk kandang-tanah, hanya bahan-bahan yang akan
difermentasikan dicampur dengan bokashi yang sudah jadi dan dedak secara
merata. Proses fermentasi hanya berlangsung selama 24 jam dan sesudahnya bahan
dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik. Penggunaan : Bokashi ekspres sangat
baik untuk dijadikan mulsa pada pertanaman sayuran dan buah-buahan. Cara penggunaan : Cara
pengaplikasian bokashi adalah sebagai berikut :
1. Untuk lahan tegalan dan sawah
Penggunaan
bokashi untuk setiap meter perseginya adalah sekitar 3-4 genggam bokashi,
kecuali pada tanah yang kurang subur dapat dilebihkan. Bokashi disebar merata
di atas permukaan tanah. Pemberian dapat juga dilakukan dengan cara mencampur
bokashi dan tanah. Hal ini dapat dilakukan pada waktu pengolahan tanah.
Sedangkan pada tanah sawah pemberian bokashi dilakukan saat pembajakan dan
setelah tanaman berumur 14 hari dan 30 hari.
2. Untuk tanaman buah-buahan
Bokashi
disebar secara merata di permukaan tanah atau di sekitar daerah perakaran.
Selanjutnya larutan EM4 disiramkan dengan dosis 2 ml per liter air setiap dua
minggu sekali.
3. Untuk pembibitan
Lahan yang akan dijadikan sebagai
tempat pembibitan disiram dengan larutan EM4 dengan dosis 2 ml per liter air.
Selanjutnya lahan dibiarkan selama satu minggu sebelum lahan siap untuk
digunakan.
2.4 Faktor
Yang Mempengaruhi Pengomposan
Proses pengomposan dipengaruhi oleh beberapa hal
yang bekaitan dengan aktivitas mikroorganisme selama proses
pengomposan berlangsung
a.
Ukuran dan jenis bahan
organik Salah
satu komponen penting untuk mendapatkan hasil yang diharapkan dari
pengomposan. Ukuran bahan organik yang relatif lebih kecil akan
mempermudah percepatan proses pengomposan, disamping ukuran, jenis dan
karakter dari bahan organik juga sangat menentukan, misalkan gabah,
partikel kayu/ranting, sabut kelapa, yang semuanya relatif mempunyai unsur
karbon yang tinggi. Pencacahan bahan organik jelas akan sangat
membantu kecepatan pengomposan, perlakuan awal dan proporsional campuran jenis
bahan organik yg digunakan juga sangat membantu percepatan dan kualitas
hasil pengomposan. Ukuran partikel juga sangat mempengaruhi
proses percepatan pengomposan. Ukuran partikel bahan yang optimal untuk
dikomposkan berkisar dari 1/8 inci hingga 1/2 inci, ukuran ini sangat relatif.
b. Keseimbangan
Nutrisi (Rasio C:N)
sangat
berpengaruh terhadap kinerja mikroorganisme dalam merombaka bahan organik
selama proses pengomposan berlangsung. Karbon (C) dibutuhkan oleh mikroorganisme,
seperti bakteri, jamur dan aktinomisetes sebagai sumber energi (makanan),
sedangkan Nitrogen (N) yang umumnya berasal dari protein
yang terkandung dalam bahan organik diperlukan untuk membiakan diri.
Apabila kandungan C terlalu tinggi maka proses pengomposan akan cenderung
menurun (melambat), namun apabila kandungan N terlalu tinggi maka umumnya
akan cenderung menimbulkan bau ammonia atau bahkan cenderung mengarah pada
pembusukan (putrefaction). Keseimbangan rasio C:N dalam pengomposan secara
umum berkisar antara 20-40 bagian karbon(C) yang berbanding dengan 1
bagian Nitrogen (N).
c. Suhu atau
Temperatur
Proses pengomposan adalah merupakan
hasil pelepasan energi reaksi eksotermik dalam tumpukan. Kenaikan suhu
selama proses pengomposan sangat menguntungkan bagi beberapa jenis
mikroorganisme thermofilik, akan tetapi proses pengomposan yg tidak
terkontrol, misalkan suhu di atas 65-70 °C akan
menyebabkan aktivitas populasi mikroorganisme menjadi menurun
drastis. Untuk menjaga kondisi suhu yang optimum sedianya suhu dalam
tumpukan dipertahankan antara 50-60 °C, selama kurun waktu 9-11 hari
pertama sejak awal pengomposan atau cukup 7-9 hari pertama dengan
menjaga suhu berkisar antara 60-65 °C. Kondisi ini (kurva suhu tumpukan
kompos) juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti karakter bahan organik
yang dikomposkan, nisbah volume tumpukan atau timbunan
yang berbanding dengan permukaan tumpukan. Makin tinggi
volume tumpukan maka makin besar isolasi panas yang terjadi dalam
tumpukan bahan yang dikomposkan.
d. Kelembaban
atau Kadar Air
Dalam proses pengomposan adalah
penting. Air merupakan media reaksi kimia atau pelarut media membawa
nutrisi dan bahan utama bagi kehidupan mikroorganisme. Jika kondisi kadar
air (kelembaban) dalam tumpukan bahan yang dikomposkan sangat rendah,
maka proses pengomposan akan berjalan sangat lambat, sebaliknya
apabila kadar air terlalu tinggi proses pengomposan juga akan kurang baik,
dimana ruang oksigen dalam tumpukan akan berkurang serta akan menimbulkan bau
yang kurang sedap, proses pengomposan akan cenderung pada anaerob.
Kondisi kelembaban yang optimal berkisar antara 45%-60%. Untuk
memperkirakan kadar air dapat dilakukan dengan cara menggenggam/meremas
bahan organik, bila tidak menetes cairan dan apabila genggaman dibuka
bahan organik akan mengembang namun tidak berhambur, maka
diperkirakan kadar airnya telah cukup untuk proses pengomposan tsb. Untuk
lebih mudahnya dapat diukur dengan alat pengukur kelembaban ( Gauge
Moisture Content).
e. Aerasi
atau Oksigen
Diperlukan
oleh mikroorganisme untuk melakukan respirasi. Selama itu berlangsung
kandungan oksigen tumpukan akan berkurang dan kandungan karbondioksida
akan meningkat. Ketika kandungan oksigen dalam tumpukan kurang dari 10% akan
menimbulkan bau yang kurang sedap dan proses pengomposan akan mengarah
pada kondisi anaerob. Untuk menjaga kondisi udara baik yang jumlahnya
besar, dapat dilakukan dengan menyuntikkan udara ke dalam tumpukan atau bila
jumlahnya sedikit dapat juga tumpukan dibalik/ diaduk. Pembalikan tumpukan sebaiknya
setiap minggu sekali gunanya untuk menghomogenkan bahan-bahan yg dikomposkan
dan memberikan proses pengomposan yg stabil antara tumpukan kompos bagian
bawah, tengah dan atas.
f. Bioaktivator
Adalah penambahan aktivator
mikroorganisme yang menguntungkan akan sangat membantu dalam proses percepatan
pengomposan, penambahan ini akan memungkinkan kompos yang dihasilkan memiliki
karakteristik yang lebih sehat dan lebih baik bila diterapkan
ke dalam tanah.
2.5
Model Pertanian Terpadu
Pembangunan berkelanjutan
didefinisikan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa
mengorbankan kesanggupan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka”.
Pertanian Berkelanjutan adalah keberhasilan dalam mengelola sumberdaya untuk
kepentingan pertanian dalam memenuhi kebutuhan manusia, sekaligus
mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumberdaya
alam. Pertanian berwawasan lingkungan selalu memperhatikan nasabah tanah, air,
manusia, hewan/ternak, makanan, pendapatan dan kesehatan. Sedang tujuan
pertanian yang berwawasan lingkungan adalah mempertahankan dan meningkatkan
kesuburan tanah; meningkatkan dan mempertahankan basil pada aras yang optimal;
mempertahankan dan meningkatkan keanekaragaman hayati dan ekosistem; dan yang
lebih penting untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan penduduk dan
makhluk hidup lainnya. Sistem pertanian berkelanjutan harus dievaluasi
berdasarkan pertimbangan beberapa kriteria, antara lain:
1.
Aman menurut wawasan
lingkungan, berarti kualitas sumberdaya alam dan vitalitas keseluruhan
agroekosistem dipertahankan/mulai dari kehidupan manusia, tanaman dan hewan
sampai organisme tanah dapat ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai apabila tanah
terkelola dengan baik, kesehatan tanah dan tanaman ditingkatkan, demikian juga
kehidupan manusia maupun hewan ditingkatkan melalui proses biologi. Sumberdaya
lokal dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat menekan kemungkinan
terjadinya kehilangan hara, biomassa dan energi, dan menghindarkan terjadinya
polusi. Menitikberatkan pada pemanfaatan sumberdaya terbarukan.
2.
Menguntungkan secara
ekonomi, berarti petani dapat menghasilkan sesuatu yang cukup untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri/ pendapatan, dan cukup memperoleh pendapatan untuk
membayar buruh dan biaya produksi lainnya. Keuntungan menurut ukuran ekonomi
tidak hanya diukur langsung berdasarkan hasil usaha taninya, tetapi juga
berdasarkan fungsi kelestarian sumberdaya dan menekan kemungkinan resiko yang
terjadi terhadap lingkungan.
3.
Adil menurut pertimbangan
sosial, berarti sumberdaya dan tenaga tersebar sedemikian rupa sehingga
kebutuhan dasar semua anggota masyarakat dapat terpenuhi, demikian juga setiap
petani mempunyai kesempatan yang sama dalam memanfaatkan lahan, memperoleh
modal cukup, bantuan teknik dan memasarkan hasil. Semua orang mempunyai
kesempatan yang sama berpartisipasi dalam menentukan kebijkan, baik di lapangan
maupun dalam lingkungan masyarakat itu sendiri.
4.
Manusiawi terhadap semua
bentuk kehidupan, berarti tanggap terhadap semua bentuk kehidupan (tanaman,
hewan dan manusia) prinsip dasar semua bentuk kehidupan adalah saling mengenal
dan hubungan kerja sama antar makhluk hidup adalah kebenaran, kejujuran,
percaya diri, kerja sama dan saling membantu. Integritas budaya dan agama dari
suatu masyarakat perlu dipertahankan dan dilestarikan.
5.
Dapat dengan mudah
diadaptasi, berarti masyarakat pedesaan/petani mampu dalam menyesuaikan dengan
perubahan kondisi usahatani: pertambahan penduduk, kebijakan dan permintaan
pasar. Hal ini tidak hanya berhubungan dengan masalah perkembangan teknologi
yang sepadan, tetapi termasuk juga inovasi sosial dan budaya.
Suatu
konsensus telah dikembangkan untuk mengantisipasi pertanian berkelanjutan.
Sistem produksi yang dikembangkan berasaskan LEISA (Low External Input
Sustainable Agriculture) yang kalau diterjemahkan sebagai (Pertanian
Berkelanjutan/Lestari, Masukan Dari Luar Usahatani Rendah). Konsep ini dapat
dijabarkan menjadi beberapa rakitan operasional, antara lain: meningkatkan
produktivitas, melaksanakan konservasi energi dan sumberdaya alam, mencegah
terjadinya erosi dan membatasi kehilangan unsur hara, meningkatkan keuntungan
usahatani, memantapkan dan ketenlanjutan konservasi serta sistem produksi
pertanian.
Penggunaan
sistem pertanaman tumpangsari di negara berkembang maupun negara maju selalu
dimotivasi oleh ekspektasi peningkatan pendapatan. Jika produktivitas
ditentukan oleh lingkungan ekologis dan faktor-faktor teknis, maka
pendapatan dipengaruhi oleh serangkaian faktor-faktor biaya masukan dan pasar.
Observasi
Perrin (1977) menunjukkan bahwa secara umum sistem pertanaman berganda atau
tumpangsari memiliki tingkat produktivitas lebih tinggi yang tercermin dari
lebih tingginya pendapatan kotor per hektar. Profitabilitas sistem
pertanaman berganda, termasuk tumpangsari, sangat dipengaruhi oleh
pemilihan jenis tanaman serta harga relatif (Horwith 1985). Sementara itu,
beberapa penelitian lainnya juga mengindikasikan kemungkinan dicapainya tingkat
efisiensi produksi serta pendapatan yang lebih tinggi pada tingkat penggunaan
input yang lebih rendah melalui pemanfaatan sistem pertanaman berganda
(Brookfield & Padoch 1994; Kirschenman 1989; Newman 1986).
Contoh Model pertanian terpadu dan
berkelanjutan berwawasan lingkungan
1. Pertanian terpadu biosiklus
Pertanian
terpadu biosiklus adalah pertanian yang mengintegrasikan tanaman,
ternak, dan ikan dalam satu siklus (biosiklus) sedemikian rupa sehingga hasil
panen dari satu kegiatan pertanian dapat menjadi input kegiatan pertanian
lainnya, selebihnya dilepas ke pasar. Dengan pola itu ketergantungan petani
dengan input produksi dari luar dapat diminimalisasi. Misalnya pakan untuk
ternak dan ikan sebagian dapat dipenuhi dari hasil tanaman dan limbah,
sedangkan kebutuhan pupuk organik dapat diperoleh dari kotoran hasil ternak.
Kotoran
ternak ditampung dalam biodigester untuk diambil gas metannya dan dapat
dimanfaatkan untuk memasak bahkan untuk energi listrik. Dengan sistem
pertanian terpadu biosiklus itu, petani memperoleh sumber penghasilan yang
beragam dari diversifikasi produk hasil pertanian; panen harian (misal telur,
susu), panen musiman (misal gabah, jagung) dan panen tahunan (anak sapi),
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya, kebutuhan pangan yang bergizi
seimbang tercukupi (mendekati PPH ideal) dari usaha tani mereka, kesuburan
lahan terjaga dan tanpa limbah (zero waste). Data penelitian lapangan
menunjukkan bahwa dengan sistem pertanian terpadu itu, petani kecil dapat
memperoleh pendapatan per bulan lebih besar daripada UMR.
2. Pertanian Organik Modern
Pertanian
ramah lingkungan salah satunya adalah dengan menerapkan pertanian organik.
Pertanian organik adalah sistem manajemen produksi terpadu yang
menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa
genetik, menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, Pertanian
organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora,
fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang
menyebabkan degradasi sumber daya alam tidak dapat dikategorikan sebagai pertanian
organik. Sebailknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar,
namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian
organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak mendapat sertifikasi organik. Bila
kita sepenuhnya mengacu kepada terminologi (pertanian organik natural) ini
tentunya sangatlah sulit bagi petani untuk menerapkannya, oleh karena itu
pilihan yang dilakukan adalah melakukan pertanian organik regenaratif, yaitu
pertanian dengan perinsip pertanian disertai dengan pengembalian ke alam
masukan-masukan yang berasal dari bahan organik.
Pengelolaan pertanian yang
berwawasan lingkungan dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara
optimal, lestari dan menguntungkan, sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan
untuk kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Pemilihan
komoditas dan areal usaha yang cocok merupakan kunci dalam
pelaksanaan pembangunan pertanian berkelanjutan, komoditas harus yang
menguntungkan secara ekonomis, masyarakat sudah terbiasa membudidayakannya, dan
dibudidayakan pada lahan yang tidak bermasalah dari segi teknis, ekologis dan
menguntungkan secara ekonomis.
Beberapa
perinsip dasar yang perlu diperhatikan adalah: (1) pemanfaatan sumberdaya alam
untuk pengembangan agribisnis hortikultura (terutama lahan dan air) secara
lestari sesuai dengan kemampuan dan daya dukung alam, (2) proses produksi atau
kegiatan usahatani itu sendiri dilakukan secara akrab lingkungan, sehingga
tidak menimbulkan dampak negatif dan eksternalitas pada masyarakat, (3)
penanganan dan pengolahan hasil, distribusi dan pemasaran, serta
pemanfaatan produk tidak menimbulkan masalah pada lingkungan (limbah dan
sampah), (4) produk yang dihasilkan harus menguntungkan secara bisnis, memenuhi
preferensi konsumen dan aman konsumsi. Keadaan dan perkembangan permintaan dan
pasar merupakan acuan dalam agribisnis hortikultura ini.
Beberapa
tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian
Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern
berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem
produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik
modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara
ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin
berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup,
mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian
organik terus berkembang.
3. Sistem Tanam Tumpangsari (Multiple Cropping)
Sistem pertanaman berganda
atau tumpangsari adalah definisi umum dari semua pola pertanaman yang
melibatkan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan.
Prinsip esensial yang terkandung di dalamnya adalah penanaman beberapa jenis
tanaman secara sekaligus pada sehamparan lahan (intercropping) dan
penanaman beberapa jenis tanaman secara bertahap pada sehamparan lahan (sequentialcropping)
(Steiner 1984).
Multiple cropping atau
sistem tanam ganda merupakan suatu usaha pertanian untuk mendapatkan hasil
panen lebih dari satu kali dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman pada
sebidang tanah yang sama dalam satu tahun. Dalam hal ini tanaman-tanaman yang
ada disitu akan melakukan suatu hubungan atau interaksi. Hubungan-hubungan
tersebut ada yang bersifat kompetitif, yaitu apabila tanaman yang satu dapat
merintangi pertumbuhan atau bersaing dengan tanaman lain dengan tanaman lain
dalam pemanfaatan unsur hara, air, oksigen dan cahaya matahari. Bersifat
komplementer, yaitu apabila masing-masing tanaman justru akan tumbuh dan
berproduksi lebih baik dibanding tanaman monokultur.
III. BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum pertanian terpadu : budidaya kacang panjang secara pertanian terpadu multi cropping dilaksanakan pada setiap hari Kamis pukul 13.00 WIB atau Sabtu pukul 17.00 WIB - selesai di Lahan UPT Fakultas Pertanian Universitas Riau Pekan Baru (RIAU).
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Budidaya Tanaman Pertanian Terpadu (Kacang
Panjang)
Alat
yang digunakan pada praktikum pertanian : Cangkul, Parang, Tali Rapia, Meteran,
Ajir.
Bahan
yang digunakan dalam praktikum penanaman Kacang panjang: Benih Kacang Panjang, Pupuk Kandang, Pupuk Urea, Bokashi.
3.2.2 Survei dan Evaluasi Komponen, Keterpaduan UPT
Fakultas Pertanian
Alat
yang digunakan pada praktikum : Alat yang digunakan pada praktikum pertanian :
Pena, Buku, Alat Tulis, Peta Lokasi
Kami
melakukan wawancara terhadap nara sumber yang mengelola lahan pertanian
tersebut. Sehingga hasil yang kami dapat dari nara sumber mencatat apa yang
Nara sumber ucapkan.
3.2.3 Pembuatan BOKASHI
Alat
yang digunakan pada praktikum pertanian terpadu ini adalah : Karung bekas,
Plastik 5kg, Tali.
Bahan
yang digunakan dalam praktikum pertanian terpadu ini adalah: Serbuk Gergaji, Pupuk Kandang, EM4 (Effective
Microorganisme), Dedak, Molasses, Air.
3.2.4 Survei dan Evaluasi Lokasi Perternakan
Alat
yang digunakan pada praktikum pertanian : Pena, Buku, Alat Tulis, Peta Lokasi.
Kami
melakukan wawancara terhadap nara sumber yang mengelola lahan pertanian
tersebut. Sehingga hasil yang kami dapat dari nara sumber mencatat apa yang
Nara sumber ucapkan.
3.3 Pelakasanaan
Praktikum
Prosedur pelaksanaan praktikum Pertanian Terpadu pada
budidaya komoditi tanaman Kacangan Panjang dengan sistem bokashi adalah sebagai
berikut :
- Siapkan alat-alat dan bahan yang akan digunakan
untuk praktikum
- Kemudian kami mengukur lahan yang akan digunakan
didalam praktikum
- Setelah kami
mengukur lahan yang akan digunakan, kami melakukan pengolahan lahan
pertama.
- Setelah semuanya dilakukan, kami mendiamkan lahan selama satu
minggu
- kegiatan
selanjutnya yang kami lakukan adalah penanaman benih kacang panjang yang
telah sediakan.
- Kemudian kami melakukan pembuatan bokashi yang akan
diaplikasikan pada lahan yang telah kami olah.
- Didalam
praktikum selanjutnya kami melakukan perawatan pada lahan dan pengamatan
Bokashi yang telah dilakukan.
- Kemudian
didalam Praktikum selanjutnya kami melakukan survey pada lahan UPT
Fakultas Pertanian
- Setelah
itu kami mencari masyarakat yang menggunakan sistem pertanian terpadu dan
melakukan survey, sehingga kami mendapatkan hasil dari survey.
- Setelah
kami melakukan praktikum-praktikum mengikuti prosedur, kami tetap
melakukan perawatan terhadap Tanaman yang kami budidaya dalam sistem
pertanian terpadu sampai praktikum pertanian terpadu selesai.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari kegiatan praktikum pertanian terpadu tentang budidaya kacang panjang secara pertanian terpadu multi cropping ini maka dapat hasil data pengamatan bokashi sebagai berikut.
4.1 Budidaya Tanaman Pertanian Terpadu (Kacang
Panjang)
Media tanam yang cocok untuk budidaya
tanaman kacang panjang adalah Hampir
semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi yang paling baik
adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur, banyak mengandung bahan
organik dan drainasenya baik. Tanah kemasaman (pH) sekitar
5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas pH 6,5) menyebabkan pecahnya
nodula-nodula akar.
Dengan
adanya Bokashi adalah pupuk organik hasil
fermentasi bahan organik dengan menggunakan EM4 (Effective Microorganisms 4)
yang dimaksud dengan EM4 yaitu suatu campuran mikroorganisme yang bermanfaat
untuk meningkatkan keanekaragaman mikroba dari tanah maupun tanaman, serta
berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tanah, pertumbuhan dan produksi tanaman.
Ternyata
setelah dilihat dari hasil yang didapat dalam pertumbuhan kacang panjang dengan
penggunaan bokashi tidak dapat kami lihat nyat, karena perawatan yang kami
lakukan kurang intensif. Sehingga kami gagal dalam menerapkan sistem pertanian
terpadu terhadap tanaman kacang panjang.
4.2 Survei dan Evaluasi Komponen, Keterpaduan UPT
Fakultas Pertania
Survei lahan UPT yang telah kami lakukan
didapatkan bahwa tanaman yang ditanam dilahan tersebut menanam sitem tanam
Multiple Croping (Tanaman Tumpang Sari).
Multiple cropping atau
sistem tanam ganda merupakan suatu usaha pertanian untuk mendapatkan hasil
panen lebih dari satu kali dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman pada
sebidang tanah yang sama dalam satu tahun. Dalam hal ini tanaman-tanaman yang
ada disitu akan melakukan suatu hubungan atau interaksi. Hubungan-hubungan
tersebut ada yang bersifat kompetitif, yaitu apabila tanaman yang satu dapat
merintangi pertumbuhan atau bersaing dengan tanaman lain dengan tanaman lain
dalam pemanfaatan unsur hara, air, oksigen dan cahaya matahari. Bersifat
komplementer, yaitu apabila masing-masing tanaman justru akan tumbuh dan
berproduksi lebih baik dibanding tanaman monokultur.
4.3 Pembuatan BOKASHI dan Aplikasinya
Cara pembuatan bokashi
adalah sebagai berikut :
1.
Larutkan EM-4 dan gula ke dalam air
dengan perbandingan 1 ml : 1 ml : 1 liter.
2.
Pupuk kandang dan dedak dicampur
secara merata.
3.
Siramkan larutan EM-4 secara
perlahan-lahan ke dalam adonan secara merata, sampai kandungan air adonan
mencapai 30%. Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak keluar dari adonan,
dan bila kepalan dilepas maka adonan akan segar.
4.
Adonan yang telah tercampur rata
didalam ember kemudian ditutup dengan plastic yang telah diberi lubang-lubang
kecil agar suhu tidak terlalu tinggi.
5.
Pertahankan suhu adonan 40-50 oC,
bukalah penutup plastik. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi
rusak karena terjadi proses pembusukkan. Pengecekan suhu dan pH dilakukan
setiap 2 hari sekali.
6.
Setelah 14 hari Bokashi telah
selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.
Adapun aplikasi dari bokashi yaitu
Bokashi dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman
meskipun bahan organiknya belum terurai seperti pada kompos. Dengan formulasi
bahan-bahan maka sangat mudah untuk mengontrol jumlah vitamin untuk tanaman. Bokashi dapat langsung mensuplai unsur
berbagai tanaman sedangkan pupuk yang lain mensuplai hara dalam tanah.
4.4 Survei dan Evaluasi Lokasi Perternakan
Dari
kegiatan survai yang kami lakukan maka didapatkan informasi lokasi perternakan
sebagai berikut :
Institusi
Usaha : Perikanan Bapak
Joko
Nama
Pemilik : Joko Setio
Usia : 20 th
Jenis
Usaha : Perikanan
Jenis
Ikan : Gurami
dan Lele
Kolam
yang dimiliki : 20 unit kolam (8m
x 4m)
Harga
jual : Lele Rp
12000/Kg, Gurami Rp 35000/Kg
Sistem
Penjualan : Menjual ke
tengkulak/pengumpul
Waktu
Panen : Lele setiap
3bulan, Gurami setiap 8bulan
Perikanan Bapak Joko (20th) dalam bidang
usaha perikanan dapat dikatakan masih merintis agar berkembang dalam skala yang
lebih besar, hal ini perlu dilakukan perkembangan dan perbaikan yang lebih baik
untuk membuat usaha lebih maju.Dengan 20 unit kolam yang dimiliki diantaranya
12 kolam diisi dengan lele dan sisanya diisi ikan gurami dapat berpenghasilan
maksimal 5 juta/bulan.
Dengan usianya yang relatif muda,
keinginan dalam membuat suatu wirausaha sangatlah luar biasa. Dimulai dari
hanya memelihara ikan di dalam aquarium,
hingga memelihara ikan dikolam. Sudah menjadi sesuatu hobi bagi Bapak Joko
untuk menjalani usahanya tersebut.
Keterpaduan kegiatan agribisnis pada usaha
ini dapat dilihat dari pemberian makan ikan gurami dengan menggunakan potongan
kecil daun talas yang diperbanyak olehnya yang berasal dari umbi tanaman talas
tersebut.Selain itu Bapak Joko juga berencana dalam membuat jaringan hidroponik
tanaman paprika dengan menggunakan sirkulasi air dari kolam lele yang
dikabarkan memiliki banyak nutrisi yang dapat menunjang pertumbuhan dan
perkembangan tanaman paprika.
V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.
Untuk menerapkan sistem Pertanian
Terpadu, seharusnya dilakukan dengan cara yang Intensif. Tetapi, didalam
praktikum yang kami lakukan penerapannya tidak intensif sehingga hasil yang
kami dapatkan tidak maksimal.
2.
Bokashi adalah sebuah metode
pengomposan yang dapat menggunakan starter aerobic maupun anaerobic untuk
mengkomposkan bahan organic yang biasanya berupa campuran molasses, air,
starter mikroorganisme dan Serbuk Gergaji. Kompos yang sudah jadi dapat
digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini
dapat diulang dengan cara yang lebih efisien.
3.
Dari survey yang kami dapatkan di
Lahan UPT Fakultas Pertanian, tanaman yang secara sistem pertanian terpadu
didapatkan secara sistem Multiple Cropping/ Tanaman Tumpang Sari.
4.
Hasil Survey yang kami dapat didalam
melakukan evaluasi lokasi perternakan bahwa nara sumber melakukan sistem
pertanian terpadu dengan perternakan ikan dan menanm umbi tanaman talas
tersebut.
5.2
Saran
Dalam melakukan budidaya tanaman kacang panjang dengan bokashi dapat disarankan bahwa
kita harus memperhatikan keadaan kematangan
bokashi sebelum diaplikasihkan karna dari kematangan itu akan terlihat daya
tumbuh tanaman kacang panjang tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Altieri,
M.A., D.K. Letourneau, and J.R. Davis. 1983. Developing sustainable agroecosystems. Biosci.33(1):45-48
Anonim.
2011. Pertanian Berkelanjutan. http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbpp- binuang/index.php?option=com_content&task=view&id=70&Itemid=1
Brookfield,
H. and C. Padoch. 1994. Appreciating agrodiversity: A look at the dynamism
and diversity of indigenous farming practices.Environment. 36(5):37-45.
Dover,M. dan
Talbot,L.M., 1987. To Feed The Earth: Agroecology for Sustainable Development. World
Resources Intitute. Washington DC.
Dunlap,
R., C. Beus, R. Howell, and J. Waud, 1992. “What is sustainable agriculture?
An empirical examination of faculty and farmer definitions.” J.Sustainable Agric. 3(1):5-39.
Handayanto, E.
1999. Pengelolan Kesuburan Tanah. Fakultas
Pertanian. Universitas Brawijaya.
Malang.
Hardjowigeno, S.,
1989. Ilmu Tanah. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
http://fapertaunmul09.blogspot.com/2011/06/laporan-agronomi-pembuatan bokashi.html/ diakses tanggal 04-06-2013/ pukul 10.34 wib.
http://asepagus544.blogspot.com/2013/03/praktikum-pembuatan-pupuk kompos.html/ diakses tanggal 03-06-2013/ pukul 21.34 wib
http://thesis.binus.ac.id/doc/Bab2/Bab%202_10-08.pdf/ diakses tanggal
04-06- 2013/ pukul 12.00 wib
http://www.masagri.com/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-proses- pengomposan/ diakses tanggal 04-06-2013/ pukul 10.34 wib
Johanis,
M. U. 2003. Pertanian Berkelanjutan Pertanian Konservasi. (Online).www.sinarharapan.com.
Kirschenman,
F. 1989. Low input farming in practice: Putting a system together and
making it work. Amer. J.
Alternative Agric. 4(3):106-110.
Manuwoto. 2009. Sistem Pertanian di Indonesia. Http://makhey.blogspot.com/2009/09/sistem-pertanian-di indonesia diakses
pada tanggal 01-06-2013.
Notohadinagoro, Tejoyuwono. 1997.
Bercari manat Pengelolaan Berkelanjutan Sebagai
Konsep Pengembangan Wilayah Lahan Kering. Makalah Seminar Nasional
dan Pelatihan Pengelolaan Lahan Kering FOKUSHIMITI di Jember.
Universitas Jember. Jember.
Perrin,
R.M. 1977. Pest management in multiple cropping systems. Agro- Ecosystems. 3:93-118.
Safuan,
Ode La dkk. 2002. Pertanian Terpadu Suatu Strategi Untuk Mewujudkan Pertanian
Berkelanjutan. (Online). www. Litbang.deptan.go.id Diakses tanggal
15 Maret 2008.
Sagala,
Danner. 2007. Hambatan dan Peluang Pertanian Berkelanjutan. (Online) www.wordpress.com.
Salikin
A, Karwan. 2003. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Kanisius, Yogyakarta
Saputra,
Umar H. 2002. Pertanian Terpadu Sebagai Pilar Kebangkitan Bangsa Indonesia.
(Online). www. Litbang.deptan. go.id Diakses tanggal 15 Maret 2008.
Tantri,
Diah. 2007. Pertanian Terpadu Lebih Menguntungkan. (Online).www.wordpress.com.
Vandermeer,
J. 1998. Maximizing crop yield in alley crops. Agroforestry Systems. 40:199-206.