BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Tomat
merupakan satu dari sayuran yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Sebagai
sayuran buah, tomat merupakan sumber vitamin A dan C. Tomat tumbuh baik pada
temperatur 20 -27oC, pembentuknan buah terhambat pada temperatur >30 oC
atau < 10 oC. Tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainasi baik,
dengan pH optimum 6.0 – 7.0. Tomat dapat ditanam sebagai rotasi pada lahan
sawah. Hindari menanam tomat pada lahan yang sebelumnya ditanami tanaman dari
keluarga Solanaceae, seperti: terung, cabai, tomat dan yang lainnya untuk
menghindarkan hama dan penyakit. Beberapa tipe tomat yang dibudidayakan antara
lain: buah segar (biasanya berwarna merah dengan variasi dalam bentuk,
ukuran dan warna); chery – buah kecil; dan prosesing – buah dengan warna merah
yang kuat dan tinggi dalam kandungan bahan padat, sesuai untuk dibuat pasta,
sup atau saos. Berdasarkan pertumbuhannya, tomat diklasifikasikan sebagai
determinat (menyemak, pendek) dimana pertumbuhan batang diakhiri dengan
karangan bunga, semideterminat atau indeterminat (tinggi) tumbuh berterusan
menghasilkan daun dan bunga. Pada indeterminat, memungkinkan masa panen yang
lebih panjang, yang mungkin bermanfaat pada waktu harga berfluktuasi, akan
tetapi jenis ini perlu menggunakan turus dan harus dipangkas secara teratur
yang dapat menambah tenaga kerja. Untuk varietas yang ditanam dapat dipilih
berdasarkan varietas yang tahan penyakit, disesuaikan dengan musim, atau
varietas hibrida maupun OP, tergantung dari kebutuhan budi daya.
1.2
Tujuan
1.
Agar mahasiswa mengetahui teknis
menggunakan Teknologi Benih pada tanaman Tomat
2.
Agar Pembaca memahami Produksi Teknologi
Benih
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
BUDIDAYA TOMAT
Tomat
adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas
dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras,
miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama
dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani.
PT.
Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara
Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek
K-3), agar petani dapat berkompetisi di era perdagangan bebas.
A.
FASE PRA TANAM
1.
Syarat Tumbuh>
a) Tomat
dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
b) Tanahnya
gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara
5 – 6.
c) Curah
hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat menghambat persarian.
d) Kelembaban
relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih
muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih
banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini
berbahaya bagi tanaman
2.
Pola Tanam
a) Tanaman
yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan.
b) Dianjurkan
tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang
kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu.
3.
Penyiapan Lahan
a) Pilih
lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong,
tembakau dan kentang .
b) Untuk
mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu
c) Bila
pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk
rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam
d) Buatlah
bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan
tunggal.
e) Buatlah
parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk
pembuangan air.
f) Berikan
pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan,
aduk dan ratakan dengan tanah atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15)
dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.
Siramkan
pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata diatas bedengan dosis 1-2
botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2
botol/1000 m2 ) dengan cara :
alternatif
1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk.
Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram
bedengan.
alternatif
2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk
menyiram + 10 meter bedengan
Sebarkan
Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata
di atas bedengan pada sore hari
Jika
pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari
Biarkan
selama 5-7 hari sebelum tanam
Buat
lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter
7-8 cm sedalam 15 cm
4.
Pemilihan Bibit
Pilih
varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
Bibit
berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
Untuk
mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum
tanam atau pagi harinya (agar lembab)
B.
FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
Siapkan
media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang 25 - 30 kg +
Natural GLIO (1:1)
Masukkan
dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau kelapa
Sebarlah
benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam polibag
Setelah
benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan
dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam
Penyiraman
dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)
Penyemprotan
POC NASA pada umur 10 dan 17 hari dengan dosis 2 tutup/tangki
C.
FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )
Bedengan
sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu
Bibit
siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6
Penanaman
sore hari
Buka
polibag plastic
Benamkan
bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan ditimbun dengan tanah di
sekitarnya
Selesai
penanaman langsung disiram dengan POC NASA dengan dosis 2-3 tutup per + 15
liter air
Sulam
tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati,
rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang
tanam baru, dibersihkan dan diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam
Pengairan
dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan
sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur
hara dan mudah terserang penyakit
Amati
hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan semprot dengan
Natural VITURA
Amati
penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk daun ,
kendalikan dengan menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1.
Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia
tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus
sp.) dengan menyemprot Natural BVR atau Pestona secara bergantian
Pasang
ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm
dari batang tomat
D.
FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
Jika
tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan
dan pemberian pupuk susulan diikuti pengguludan tanaman
Setelah
tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea dan KCl dengan
perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman
pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram
dengan air
Pemupukan
kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl (± 5
gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm
kemudian ditutup tanah dan siram dengan air.
Bila
umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk Urea dan KCl
lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).
Jika
pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan serta pupuk susulan diberikan
dengan cara dikocorkan
Penyiraman
dilakukan pada pagi atau sore hari
Amati
hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan virus, jika
terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam
Semprotkan
POC NASA (4-5 tutup) per tangki atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup)
setiap 7 hari sekali.
Tanaman
yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir dan
setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri
tegak.
Pengikatan
jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak terjadi gesekan antara
batang dengan ajir yang dapat menimbulkan luka.
E.
FASE GENERATIF (30 - 80 HST)
1.
Pengelolaan Tanaman
Jika
tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari
Untuk
merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tidak
produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman
Perempelan
sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dengan cara; ujung
tunas dipegang dengan tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas
putus. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau
atau gunting, sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus
hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak
terlalu pendek
Ketinggian
tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan
buah mencapai 5-7 buah
Semprotkan
POC NASA dan HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dengan dosis 3-4 tutup POC NASA
dan 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tidak mudah hilang oleh air hujan dan
merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.
2.
Pengamatan Hama dan Penyakit
Ulat
buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah berlubang dan
kotoran menumpuk dalam buah yang terserang. Lakukan pengumpulan dan pemusnahan
buah tomat terserang, semprot dengan PESTONA
Lalat
buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur dan
bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator,
yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan
dan bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur
insektisida)
Busuk
daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah (Alternaria solani) serta
busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Jika ada serangan semprot
dengan Natural GLIO
Jika
pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO,
VITURA) belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan.
Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air
hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
Busuk
ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini gejala kekurangan
Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.
F.
FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)
Panen
pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari warna hijau menjadi
kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi
atau sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus.
Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik.
Masukkan keranjang dan letakkan di tempat yang teduh
Interval
pemetikan 2-3 hari sekali.
Supaya
tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah tomat yang akan
dikonsumsi segar dipanen setengah matang
Wadah
yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan papan bercelah dan
jangan dibanting
Waspadai
penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan musnahkan Buah tomat yang telah
dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing lalu diangkut siap untuk
konsumsi.
BAB
III
TEKNOLOGI
PRODUKSI BENIH TANAMAN TOMAT
Benih merupakan bahan dasar tanaman yang berasal dari biji.
Biji dikatakan benih apabila telah masak fisiologis. Baiknya setiap benih yang
akan kita produksi adalah benih yang telah memiliki sertifikat dan lulus
uji mutu. Hal ini dikarenakan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan
apabila di kemudian hari benih yang kita produksi merugikan. Misalnya benih
tersebut tidak tumbuh, karena benih tersebut telah mengalami deteriorasi karena
penyimpanan yang kurang baik, dan lain sebagainya.
Berikut adalah gambaran secara
sistematis dari mulai pemulia tanaman sampai ke produksi benih.
Misalnya :
Varietas
A
Varietas B
P
: hhkk
x HHKK
↓
AB
F1 :
HhKk
Katakan saja tetua A (varietas A)
tahan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat tetapi tandan bunganya sedikit dan
tetua B (Varietas B) rentan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat tetapi tandan
bunganya banyak, kemudian disilangkan dan dihasilkanlah varietas AB yakni tahan
terhadap penyakit Hawar Daun Tomat dan buahnya besar
Setelah kita mendapatkan hasil
varietas yang bagus, maka varietas ini kita uji sertifikasi, dan diuji mutunya
juga. Apabila telah lulus uji maka kita baru dapat memperbanyak atau
memproduksi baik sendiri maupun bekerja sama dengan pihak atau lemabaga lain
dalam hal memperbanyak atau memproduksi benih tersebut.
Produksi benih pun berbeda – beda
tergantung pada tomat yang diusahakan. Masing – masing varietas memiliki ciri
tersendiri dilihat dari tipe pertumbuhan tanaman, jumlah tandan buah
pertanaman, jumlah buah per tandan, dan populasi tanaman per hektar lahan.
Ukuran buah dilaporkan tidak berpengaruh terhadap jumlah benih yang di
kandungnya. Wahju Qomara Mugnisjah, 1991).
Biasanya 20 – 50 % dari bakal buah
tomat akan menjadi biji, tergantung dari varietas, teknik budidaya, dan
lingkungan tumbuhnya. Umumnya 1 kg buah tomat = 4 gr benih. Biji kering yg
disimpan dengan baik dapat bertahan 3-4 tahun
Hal – hal yang harus di perhatikan
dalam Produksi Benih :
A.
Persyaratan Tanah
pH tanah harus dipertahankan pada
6,5, kalau perlu dengan pengapuran. Persiapan tanah dan pemupukan hampir sama
dengan untuk produksi buah, atau lebih tinggi terutama kandungan phosfor.
Pemberian N biasanya setengah dari pemberian kalium untuk memelihara
keseimbangan antara pembungaan dan pertumbuhan vegetatif.
B. Isolasi
Tomat merupakan tanaman menyerbuk
sendiri, akan tetapi penyerbukan silang dapat terjadi karena selalu ada
kemungkinan serangga membawa tepung sari dari luar, atau adanya serangga yang
mampu menyerbukkan silang, atau bunga dengan putik yang panjang hingga
memungkinkan terjadinya serbuk silang. Jarak isolasi minimum antara varietas
yang berbeda antara 30 – 200 m, untuk menghindarkan pencampuran sewaktu panen.
Untuk varietas hibrida, jarak yang diperlukan tidak lebih dari 2 m. Bisa
juga menggunakan pagar dari plastik, menutupi bunga tomat dengan menggunakan
plastik, kertas atau apapun yang dapat menutupi kepala putik.
C. Roguing
Tanaman yang menyimpang secara
morfologis harus dicabut dan dibuang. Roguing dilakukan sebelum pembungaan,
pada masa pembungaan awal, dan pada saat buah pertama matang.
D. Panen dan Prosesing Benih
Buah matang dipanen, terutama buah
hasil persilangan dipanen dari galur betina yang biasanya terdapat label pada
kalik. Buah matang dipotong melintang, kemudian dikeluarkan biji dengan lapisan
beningnya ke dalam wadah yang disediakan. Pisahkan kulit dan bagian buah yang
terbawa. Biji kemudian difermentasi sampai 3-5 hari pada 20-25°C. Bila lapisan
bening sudah pecah, biji dikocok beberapa kali untuk proses fermentasi yang
seragam dan mencegah perubahan warna biji. Proses fermentasi jangan sampai
melampaui masa pecahnya lapisan bening biji, karena dapat menyebabkan
perkecambahan dini. Biji kemudian dicuci dengan air kemudian saring, dan hal
ini dilakukan beberapa kali sampai biji bersih. Pengeringan dapat dilakukan
setelah air ditiriskan melalui kain, kemudian biji dihamparkan pada alas yang
sesuai dan dikeringkan di bawah sinar matahari, sesekali dibalikkan. Benih yang
kering kemudian disimpan di tempat kering dan kedap udara, seperti halnya
menyimpan benih sayuran lainnya.
Cara Produksi Benih Tomat
Persemaian dilakukan terpisah antara tomat induk jantan dengan
induk betina. Untuk menghindari kesalahan sebaiknya diberi label/penanda.
a)
Waktu persemaian tomat induk
jantan dilakukan kurang lebih dua minggu lebih awal dari tomat induk betina.
Ini dilakukan karena tomat induk betina berbunga lebih awal dibandingkan tomat
induk jantan. Jika ditanam bersamaan, maka tanaman tomat jantan tidak mampu
mencukupi kebutuhan serbuk sari untuk proses polinasi.
b)
Lahan yang digunakan harus
bebas hama dan patogen penyebab penyakit seperti nematoda, layu bakteri maupun
layu fusarium. Jika terdapat hama dan atau patogen tersebut, lahan sebaiknya
tidak digunakan untuk menanam tomat dan tanaman satu famili selama 2 tahun.
c)
Roguing (pencabutan tanaman tomat berbeda varietas, off type) dilakukan rutin dan
teliti agar kemurnian benih terjaga.
d) Kastrasi tomat induk betina dilakukan pada bunga yang masih kuncup
dan mahkota berwarna putih. Bila masih kuncup tetapi sudah berwarna kekuningan,
lebih baik dibuang karena ada kemungkinan telah terjadi penyerbukan sendiri
maupun penyerbukan silang.
e)
Bunga tomat induk jantan
untuk proses polinasi dipilih yang berwarna jingga dan posisi mahkota bunga
melengkung ke arah kelopak bunga.
f)
Polinasi efektif dilakukan
mulai pukul 06.30-10.00, sedangkan kastrasi dapat dilakukan pukul 10.00-15.00.
g)
Buah yang dipanen harus
masak fisiologis ditandai dengan warna buah merah.
h)
Buah tomat yang dipanen
tidak langsung diproses untuk diambil bijinya, akan tetapi didiamkan
sekurang-kurangnya 24 jam. Selama waktu tersebut terjadi proses perubahan
kimiawi dan fisik pada buah, sehingga matang sempurna dan merata.
i)
Uji fisiologis (berupa uji
daya tumbuh), uji genetik (berupa uji kemurnian), dan uji fisik (berupa uji
kadar air) perlu dilakukan untuk menjaga kualitas sebelum benih dipasarkan.
j)
Pemeliharaan tetua dapat
dilakukan dengan cara selfing. Bunga disungkup dengan kertas
tipis (kerta selfing)
sehingga kemungkinan terjadi penyerbukan silang rendah.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Produksi benih dimaksudkan untuk
memperbanyak suatu benih yang di kemudian hari benih tersebut akan digunkan
oleh masyarakat. Baiknya setiap benih yang akan kita produksi adalah
benih yang telah memiliki sertifikat dan lulus uji mutu. Hal ini dikarenakan
agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan apabila di kemudian hari benih yang
kita produksi merugikan. Misalnya benih tersebut tidak tumbuh, karena benih
tersebut telah mengalami deteriorasi karena penyimpanan yang kurang baik, dan
lain sebagainya
Akan tetapi pada kenyataannya,
masih ada saja benih yang diproduksi tanpa melihat sertifikasi dan uji mutu benih.
Ini merupakan tugas bagi kita semua dalam melakukan pengawasan dan pencegahan
agar hal tersebut tidak dapat terjadi lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Hanson P, J.T. Chen, C.G. Kuo, R.
Morris dan R.T. Opena, 2000. Suggested Cultural practices for tomato.
International Cooperator’s guide. AVRDC: 8 pp.
http://coretanroodeetea.wordpress.com/2010/03/23/produksi-benih/
(Diakses pada tanggal 5 Juni 2012, jam 12.40 wib)
http://hortikultura.litbang.deptan.go.id/index.php?bawaan=teknologi/isi_teknologi&id_menu=4&id_submenu=19&id=51
(Diakses pada tanggal 5 Juni 2012, jam 12.37 wib)
http://id.shvoong.com/exact-sciences/agronomy-agriculture/2261859-studi-teknik-produksi-benih-tomat/
(Diakses pada tanggal 5 Juni 2012, jam 02.13 wib)
Pitojo Setijo. 2005. Benih
Tomat. Kanisius : Yogyakarta
Raymond AT. George.1999. Vegetable
Seed Production. CABI Publishing: 214-230.
