Senin, 04 Juni 2012

Teknologi Benih Tanaman Tomat


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Tomat merupakan satu dari sayuran yang paling banyak dibudidayakan di dunia. Sebagai sayuran buah, tomat merupakan sumber vitamin A dan C. Tomat tumbuh baik pada temperatur 20 -27oC, pembentuknan buah terhambat pada temperatur >30 oC atau < 10 oC. Tomat baik ditanam pada tanah yang berdrainasi baik, dengan pH optimum 6.0 – 7.0. Tomat dapat ditanam sebagai rotasi pada lahan sawah. Hindari menanam tomat pada lahan yang sebelumnya ditanami tanaman dari keluarga Solanaceae, seperti: terung, cabai, tomat dan yang lainnya untuk menghindarkan hama dan penyakit. Beberapa tipe tomat yang dibudidayakan antara lain:  buah segar (biasanya berwarna merah dengan variasi dalam bentuk, ukuran dan warna); chery – buah kecil; dan prosesing – buah dengan warna merah yang kuat dan tinggi dalam kandungan bahan padat, sesuai untuk dibuat pasta, sup atau saos. Berdasarkan pertumbuhannya, tomat diklasifikasikan sebagai determinat (menyemak, pendek) dimana pertumbuhan batang diakhiri dengan karangan bunga, semideterminat atau indeterminat (tinggi) tumbuh berterusan menghasilkan daun dan bunga. Pada indeterminat, memungkinkan masa panen yang lebih panjang, yang mungkin bermanfaat pada waktu harga berfluktuasi, akan tetapi jenis ini perlu menggunakan turus dan harus dipangkas secara teratur yang dapat menambah tenaga kerja. Untuk varietas yang ditanam dapat dipilih berdasarkan varietas yang tahan penyakit, disesuaikan dengan musim, atau varietas hibrida maupun OP, tergantung dari kebutuhan budi daya.
1.2              Tujuan
1.                  Agar mahasiswa mengetahui teknis menggunakan Teknologi Benih pada tanaman Tomat
2.                  Agar Pembaca memahami Produksi Teknologi Benih


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              BUDIDAYA TOMAT






Tomat adalah komoditas hortikultura yang penting, tetapi produksinya baik kuantitas dan kualitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, miskin unsur hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca dan iklim, serta teknis budidaya petani.
PT. Natural Nusantara berupaya membantu petani dalam peningkatan produksi secara Kuantitas dan Kualitas dengan tetap memelihara Kelestarian lingkungan (Aspek K-3), agar petani dapat berkompetisi di era perdagangan bebas.
A.                FASE PRA TANAM
1.                  Syarat Tumbuh>
a)      Tomat dapat ditanam di dataran rendah/dataran tinggi
b)      Tanahnya gembur, porus dan subur, tanah liat yang sedikit mengandung pasir dan pH antara 5 – 6.
c)      Curah hujan 750-1250 mm/tahun, curah hujan yang tinggi dapat menghambat persarian.
d)     Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan tanaman yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih baik melalui stomata yang membuka lebih banyak, tetapi juga akan merangsang mikroorganisme pengganggu tanaman dan ini berbahaya bagi tanaman
2.                  Pola Tanam
a)      Tanaman yang dianjurkan adalah jagung, padi, sorghum, kubis dan kacang-kacangan.

b)      Dianjurkan tanam sistem tumpang sari atau tanaman sela untuk memberikan keadaan yang kurang disukai oleh organisme jasad pengganggu.
3. Penyiapan Lahan
a)      Pilih lahan gembur dan subur yang sebelumnya tidak ditanami tomat, cabai, terong, tembakau dan kentang .

b)      Untuk mengurangi nematoda dalam tanah genangilah tanah dengan air selama dua minggu

c)      Bila pH rendah berikanlah kapur dolomite 150 kg/1000 m2 dan disebar serta diaduk rata pada umur 2-3 minggu sebelum tanam

d)     Buatlah bedengan selebar 120-160 cm untuk barisan ganda dan 40-50 cm untuk barisan tunggal.
e)      Buatlah parit selebar 20-30 cm diantara bedengan dengan kedalaman 30 cm untuk pembuangan air.
f)       Berikan pupuk dasar 4 kg Urea /ZA + 7,5 kg TSP + 4 kg KCl per 1000 m2 diatas bedengan, aduk dan ratakan dengan tanah atau jika pakai Pupuk Majemuk NPK (15-15-15) dosis ± 20 kg / 1000 m2 dicampur rata dengan tanah di atas bedengan.
Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secara merata diatas bedengan dosis 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika diganti SUPER NASA (dosis ± 1-2 botol/1000 m2 ) dengan cara :
alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 sendok peres makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan
Sebarkan Natural GLIO 1-2 sachet yang telah dicampur pupuk kandang (+ 1 minggu) merata di atas bedengan pada sore hari
Jika pakai Mulsa plastik, tutup bedengan pada siang hari
Biarkan selama 5-7 hari sebelum tanam
Buat lubang tanam dengan jarak 60 x 80 cm atau 60 x 50 cm di atas bedengan, diameter 7-8 cm sedalam 15 cm
4. Pemilihan Bibit
Pilih varietas tahan dan jenis Hybryda ( F1 Hybryd )
Bibit berdaun 5-6 helai daun (25-30 HSS=hari setelah semai) pindahkan ke lapangan
Untuk mengurangi stress awal pertumbuhan perlu disiram dulu pada sore sehari sebelum tanam atau pagi harinya (agar lembab)
B. FASE PERSEMAIAN (0-30 HSS)
Siapkan media tanam yang merupakan campuran tanah dan pupuk kandang 25 - 30 kg + Natural GLIO (1:1)
Masukkan dalam polibag plastik atau contongan daun pisang atau kelapa
Sebarlah benih secara merata atau masukkan satu per satu dalam polibag
Setelah benih berumur 8-10 hari , pilih bibit yang baik, tegar dan sehat dipindahkan dalam bumbunan daun pisang atau dikepeli yang berisi campuran media tanam
Penyiraman dilakukan setiap hari (lihat kondisi tanah)
Penyemprotan POC NASA pada umur 10 dan 17 hari dengan dosis 2 tutup/tangki
C. FASE TANAM ( 0-15 HST=Hari Setelah Tanam )
Bedengan sehari sebelumnya diairi ( dilep ) dahulu
Bibit siap tanam umur 3 - 4 minggu, berdaun 5-6
Penanaman sore hari
Buka polibag plastic
Benamkan bibit secara dangkal pada batas pangkal batang dan ditimbun dengan tanah di sekitarnya
Selesai penanaman langsung disiram dengan POC NASA dengan dosis 2-3 tutup per + 15 liter air
Sulam tanaman yang mati sampai berumur 2 minggu, caranya tanaman yang telah mati, rusak, layu atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam baru, dibersihkan dan diberi Natural GLIO lalu bibit ditanam
Pengairan dilakukan tiap hari sampai tomat tumbuh normal (Jawa : lilir), hati-hati jangan sampai berlebihan karena tanaman bisa tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit
Amati hama seperti ulat tanah dan ulat grayak. Jika ada serangan semprot dengan Natural VITURA
Amati penyakit seperti penyakit layu Fusarium atau bakteri dan busuk daun , kendalikan dengan menyemprot Natural GLIO dicampur gula pasir perbandingan 1:1. Untuk penyakit Virus, kendalikan vektornya seperti Thrips, kutu kebul (Bemissia tabaci), banci ( Aphis sp.), Kutu persik (Myzus sp.) dan tungau (Tetranichus sp.) dengan menyemprot Natural BVR atau Pestona secara bergantian
Pasang ajir sedini mungkin supaya akar tidak rusak tertusuk ajir dengan jarak 10-20 cm dari batang tomat
D. FASE VEGETATIF ( 15-30 HST)
Jika tanpa mulsa, penyiangan dan pembubunan pada umur 28 HST bersamaan penggemburan dan pemberian pupuk susulan diikuti pengguludan tanaman
Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu semenjak tanam, diberi pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1 untuk setiap tanaman (1-2 gram), berikan di sekeliling tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian ditutup tanah dan siram dengan air
Pemupukan kedua dilakukan umur 2-3 minggu sesudah tanam berupa campuran Urea dan KCl (± 5 gr), berikan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan sedalam ± 1 cm kemudian ditutup tanah dan siram dengan air.
Bila umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat dipupuk Urea dan KCl lagi (7 gram). Jarak pemupukan dari batang dibuat makin jauh ( ± 7 cm).
Jika pakai Mulsa tidak perlu penyiangan dan pembubunan serta pupuk susulan diberikan dengan cara dikocorkan
Penyiraman dilakukan pada pagi atau sore hari
Amati hama dan penyakit seperti ulat, kutu-kutuan, penyakit layu dan virus, jika terjadi serangan kendalikan seperti pada fase tanam
Semprotkan POC NASA (4-5 tutup) per tangki atau POC NASA (3-4 tutup) + HORMONIK (1 tutup) setiap 7 hari sekali.
Tanaman yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera diikat pada ajir dan setiap bertambah tinggi + 20 cm harus diikat lagi agar batang tomat berdiri tegak.
Pengikatan jangan terlalu erat dengan model angka 8, sehingga tidak terjadi gesekan antara batang dengan ajir yang dapat menimbulkan luka.
E. FASE GENERATIF (30 - 80 HST)
1. Pengelolaan Tanaman
Jika tanpa mulsa penyiangan dan pembubunan kedua dilakukan umur 45-50 hari
Untuk merangsang pembungaan pada umur 32 HST lakukan perempelan tunas-tunas tidak produktif setiap 5-7 hari sekali, sehingga tinggal 1-3 cabang utama / tanaman
Perempelan sebaiknya pagi hari agar luka bekas rempelan cepat kering dengan cara; ujung tunas dipegang dengan tangan bersih lalu digerakkan ke kanan-kiri sampai tunas putus. Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau atau gunting, sedangkan tanaman yang tingginya terbatas perempelan harus hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel sehingga tanaman tidak terlalu pendek
Ketinggian tanaman dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman apabila jumlah dompolan buah mencapai 5-7 buah
Semprotkan POC NASA dan HORMONIK setiap 7-10 hari sekali dengan dosis 3-4 tutup POC NASA dan 1-2 tutup HORMONIK/tangki. - Agar tidak mudah hilang oleh air hujan dan merata tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.
2. Pengamatan Hama dan Penyakit
Ulat buah (Helicoperva armigera dan Heliothis sp.). Gejala buah berlubang dan kotoran menumpuk dalam buah yang terserang. Lakukan pengumpulan dan pemusnahan buah tomat terserang, semprot dengan PESTONA
Lalat buah (Brachtocera atau Dacus sp.).Gejala buah busuk karena terserang jamur dan bila buah dibelah akan kelihatan larva berwarna putih. - - Bersifat agravator, yaitu sebagai vektornya penyakit jamur, bakteri dan Drosophilla sp. Kumpulkan dan bakar buah terserang, gunakan perangkap lalat buah jantan (dapat dicampur insektisida)
Busuk daun (Phytopthora infestans), bercak daun dan buah (Alternaria solani) serta busuk buah antraknose (Colletotrichum coccodes). Jika ada serangan semprot dengan Natural GLIO
Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami (PESTONA, GLIO, VITURA) belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.
Busuk ujung buah. Ujung buah tampak lingkaran hitam dan busuk. Ini gejala kekurangan Ca ( Calsium). Berikan Dolomit.
F. FASE PANEN & PASCA PANEN (80 - 130 HST)
Panen pada umur 90-100 HST dengan ciri; kulit buah berubah dari warna hijau menjadi kekuning-kuningan, bagian tepi daun tua mengering, batang menguning, pada pagi atau sore hari disaat cuaca cerah. Buah dipuntir hingga tangkai buah terputus. Pemuntiran buah dilakukan satu-persatu dan dipilih buah yang siap petik. Masukkan keranjang dan letakkan di tempat yang teduh
Interval pemetikan 2-3 hari sekali.
Supaya tahan lama, tidak cepat busuk dan tidak mudah memar, buah tomat yang akan dikonsumsi segar dipanen setengah matang
Wadah yang baik untuk pengangkutan adalah peti-peti kayu dengan papan bercelah dan jangan dibanting
Waspadai penyakit busuk buah Antraknose, kumpulkan dan musnahkan Buah tomat yang telah dipetik, dibersihkan, disortasi dan di packing lalu diangkut siap untuk konsumsi.
BAB III
TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH TANAMAN TOMAT

Benih merupakan bahan dasar tanaman yang berasal dari biji. Biji dikatakan benih apabila telah masak fisiologis. Baiknya setiap benih yang akan  kita produksi adalah benih yang telah memiliki sertifikat dan lulus uji mutu. Hal ini dikarenakan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan apabila di kemudian hari benih yang kita produksi merugikan. Misalnya benih tersebut tidak tumbuh, karena benih tersebut telah mengalami deteriorasi karena penyimpanan yang kurang baik, dan lain sebagainya.
Berikut adalah gambaran secara sistematis dari mulai pemulia tanaman sampai ke produksi benih.
Misalnya :                    Varietas A                   Varietas B
P :                                hhkk              x            HHKK
AB
F1 :                                                      HhKk
Katakan saja tetua A (varietas A) tahan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat tetapi tandan bunganya sedikit dan tetua B (Varietas B) rentan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat tetapi tandan bunganya banyak, kemudian disilangkan dan dihasilkanlah varietas AB yakni tahan terhadap penyakit Hawar Daun Tomat dan buahnya besar
Setelah kita mendapatkan hasil varietas yang bagus, maka varietas ini kita uji sertifikasi, dan diuji mutunya juga. Apabila telah lulus uji maka kita baru dapat memperbanyak atau memproduksi baik sendiri maupun bekerja sama dengan pihak atau lemabaga lain dalam hal memperbanyak atau memproduksi benih tersebut.
Produksi benih pun berbeda – beda tergantung pada tomat yang diusahakan. Masing – masing varietas memiliki ciri tersendiri dilihat dari tipe pertumbuhan tanaman, jumlah tandan buah pertanaman, jumlah buah per tandan, dan populasi tanaman per hektar lahan. Ukuran buah dilaporkan tidak berpengaruh terhadap jumlah benih yang di kandungnya. Wahju Qomara Mugnisjah, 1991).
Biasanya 20 – 50 % dari bakal buah tomat akan menjadi biji, tergantung dari varietas, teknik budidaya, dan lingkungan tumbuhnya. Umumnya 1 kg buah tomat = 4 gr benih. Biji kering yg disimpan dengan baik dapat bertahan 3-4 tahun
Hal – hal yang harus di perhatikan dalam Produksi Benih :
A. Persyaratan   Tanah
pH tanah harus dipertahankan pada 6,5, kalau perlu dengan pengapuran. Persiapan tanah dan pemupukan hampir sama dengan untuk produksi buah, atau lebih tinggi terutama kandungan phosfor. Pemberian N biasanya setengah dari pemberian kalium untuk memelihara keseimbangan antara pembungaan dan pertumbuhan vegetatif.
B. Isolasi
Tomat merupakan tanaman menyerbuk sendiri, akan tetapi penyerbukan silang dapat terjadi karena selalu ada kemungkinan serangga membawa tepung sari dari luar, atau adanya serangga yang mampu menyerbukkan silang, atau bunga dengan putik yang panjang hingga memungkinkan terjadinya serbuk silang. Jarak isolasi minimum antara varietas yang berbeda antara 30 – 200 m, untuk menghindarkan pencampuran sewaktu panen. Untuk varietas hibrida, jarak yang diperlukan tidak lebih dari 2 m. Bisa juga menggunakan pagar dari plastik, menutupi bunga tomat dengan menggunakan plastik, kertas atau apapun yang dapat menutupi kepala putik.
C. Roguing
Tanaman yang menyimpang secara morfologis harus dicabut dan dibuang. Roguing dilakukan sebelum pembungaan, pada masa pembungaan awal, dan pada saat buah pertama matang.
D. Panen dan Prosesing Benih
Buah matang dipanen, terutama buah hasil persilangan dipanen dari galur betina yang biasanya terdapat label pada kalik. Buah matang dipotong melintang, kemudian dikeluarkan biji dengan lapisan beningnya ke dalam wadah yang disediakan. Pisahkan kulit dan bagian buah yang terbawa. Biji kemudian difermentasi sampai 3-5 hari pada 20-25°C. Bila lapisan bening sudah pecah, biji dikocok beberapa kali untuk proses fermentasi yang seragam dan mencegah perubahan warna biji. Proses fermentasi jangan sampai melampaui masa pecahnya lapisan bening biji, karena dapat menyebabkan perkecambahan dini. Biji kemudian dicuci dengan air kemudian saring, dan hal ini dilakukan beberapa kali sampai biji bersih. Pengeringan dapat dilakukan setelah air ditiriskan melalui kain, kemudian biji dihamparkan pada alas yang sesuai dan dikeringkan di bawah sinar matahari, sesekali dibalikkan. Benih yang kering kemudian disimpan di tempat kering dan kedap udara, seperti halnya menyimpan benih sayuran lainnya.
Cara Produksi Benih Tomat
Persemaian dilakukan terpisah antara tomat induk jantan dengan induk betina. Untuk menghindari kesalahan sebaiknya diberi label/penanda.
a)      Waktu persemaian tomat induk jantan dilakukan kurang lebih dua minggu lebih awal dari tomat induk betina. Ini dilakukan karena tomat induk betina berbunga lebih awal dibandingkan tomat induk jantan. Jika ditanam bersamaan, maka tanaman tomat jantan tidak mampu mencukupi kebutuhan serbuk sari untuk proses polinasi.
b)      Lahan yang digunakan harus bebas hama dan patogen penyebab penyakit seperti nematoda, layu bakteri maupun layu fusarium. Jika terdapat hama dan atau patogen tersebut, lahan sebaiknya tidak digunakan untuk menanam tomat dan tanaman satu famili selama 2 tahun.
c)      Roguing (pencabutan tanaman tomat berbeda varietas, off type) dilakukan rutin dan teliti agar kemurnian benih terjaga.
d)     Kastrasi tomat induk betina dilakukan pada bunga yang masih kuncup dan mahkota berwarna putih. Bila masih kuncup tetapi sudah berwarna kekuningan, lebih baik dibuang karena ada kemungkinan telah terjadi penyerbukan sendiri maupun penyerbukan silang.
e)      Bunga tomat induk jantan untuk proses polinasi dipilih yang berwarna jingga dan posisi mahkota bunga melengkung ke arah kelopak bunga.
f)       Polinasi efektif dilakukan mulai pukul 06.30-10.00, sedangkan kastrasi dapat dilakukan pukul 10.00-15.00.
g)      Buah yang dipanen harus masak fisiologis ditandai dengan warna buah merah.
h)      Buah tomat yang dipanen tidak langsung diproses untuk diambil bijinya, akan tetapi didiamkan sekurang-kurangnya 24 jam. Selama waktu tersebut terjadi proses perubahan kimiawi dan fisik pada buah, sehingga matang sempurna dan merata.
i)        Uji fisiologis (berupa uji daya tumbuh), uji genetik (berupa uji kemurnian), dan uji fisik (berupa uji kadar air) perlu dilakukan untuk menjaga kualitas sebelum benih dipasarkan.
j)        Pemeliharaan tetua dapat dilakukan dengan cara selfing. Bunga disungkup dengan kertas tipis (kerta selfing) sehingga kemungkinan terjadi penyerbukan silang rendah.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Produksi benih dimaksudkan untuk memperbanyak suatu benih yang di kemudian hari benih tersebut akan digunkan oleh masyarakat. Baiknya setiap benih yang akan  kita produksi adalah benih yang telah memiliki sertifikat dan lulus uji mutu. Hal ini dikarenakan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan apabila di kemudian hari benih yang kita produksi merugikan. Misalnya benih tersebut tidak tumbuh, karena benih tersebut telah mengalami deteriorasi karena penyimpanan yang kurang baik, dan lain sebagainya
Akan tetapi pada kenyataannya, masih ada saja benih yang diproduksi tanpa melihat sertifikasi dan uji mutu benih. Ini merupakan tugas bagi kita semua dalam melakukan pengawasan dan pencegahan agar hal tersebut tidak dapat terjadi lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Hanson P, J.T. Chen, C.G. Kuo, R. Morris dan R.T. Opena, 2000. Suggested Cultural practices for tomato. International Cooperator’s guide. AVRDC: 8 pp.
http://coretanroodeetea.wordpress.com/2010/03/23/produksi-benih/ (Diakses pada tanggal 5 Juni 2012, jam 12.40 wib)
Pitojo Setijo. 2005. Benih Tomat. Kanisius : Yogyakarta
Raymond AT. George.1999. Vegetable Seed Production. CABI Publishing: 214-230.